Berita Surabaya

Para Penyintas Yang Lolos dari Kanker Tergerak Buat Gerakan Canmovement

Melalui media sosial, Canmovement membangun kewaspadaan dan kesadaran tentang kanker, sekaligus membentuk gaya hidup sehat

Para Penyintas Yang Lolos dari Kanker Tergerak Buat Gerakan Canmovement
SURYA.co.id/ Habibur Rohman
Para penyintas kanker di Adi Husada Cancer Center 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tak mudah bagi penderita kanker untuk bisa menerima dan berjuang melawan penyakit momok ini. Penolakan dan depresi dialami para penyintas (survivor) saat proses penyembuhannya. Saat penyakit ini bisa dikalahkan, mereka membuat gerakan peduli kanker bernama Canmovement.

Tak pernah terbersit di pikiran Irmaya Haryuni (37), bahwa dia akan menderita kanker payudara. Sejak remaja, Irma selalu berpikir positif pada hidupnya, termasuk pada kesehatan. Meski punya riwayat kanker dari neneknya, namun Irma kurang mau peduli pada kesehatan payudaranya.

“Saya seperti disambar petir, saat tahu ada benjolan pada payudara ketika mandi. Saat itu saya sudah berusia 27 tahun dan sekira enam bulan lagi menikah,” ujarnya di sela-sela launching gerakan Canmovement di Adi Husada Cancer Centre, Sabtu (20/10/2018).

Rasa bingung dan terpukul berkecamuk dalam hatinya. Dengan rasa takut, dia bercerita tentang penyakitnya pada calon suaminya. Namun untungnya, sang calon suami mau menerima dan mendukung hingga menikah. Hanya saja, depresi dan kekecewaan makin menumpuk, saat proses pengobatan berupa kemoterapi dan operasi berjalan lebih setahun.

“Sebelum pengobatan, dokter juga sudah bilang kalau saya belum boleh punya anak selama lima tahun,” urai perempuan yang sudah menikah selama 10 tahun ini.

Meski menyakitkan, proses pengobatan ini berjalan baik dan berakhir dengan pengangkatan salah satu payudaranya. Namun depresinya berlanjut, karena dia dikeluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja. Padahal, di perusahaan itu, dia menjabat sebagai HRD Manager.

“Saya sudah melamar ke beberapa perusahaan tapi gagal karena riwayat kanker. Saya benar-benar dendam dan ingin buktikan bahwa saya tetap bisa usaha sendiri,” tegasnya.

Dendam itu akhirnya terwujud. Selain bisa sembuh dari kanker payudara, dia memiliki usaha kuliner yang dinamainya Madameschotel.

“Dengan ini, saya bisa bertahan hidup dari kanker sekaligus punya usaha sendiri,” urainya.

Hal senada juga dialami Dyah Cista Astasari (32). Saat kuliah Fakultas Hukum di Universitas Brawijaya pada 2003, dia sempat operasi usus buntu. Ketika operasi berjalan, muncul diagnosis kanker ovarium. Keluarganya sudah tahu, namun tak diberitahukan padanya. Tak lama, perutnya tiba-tiba membesar mirip orang hamil.

Halaman
12
Penulis: Sudharma Adi
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved