Advertorial

Riset Pelayanan Publik di Sampang, Fadil Jadi Wisudawan Terbaik di Ubhara

Risetnya yang berangkat dari keprihatinan terhadap kualitas pelayanan publik di Sampang menjadikan Fadil sebagai wisudawan terbaik Ubhara

Riset Pelayanan Publik di Sampang, Fadil Jadi Wisudawan Terbaik di Ubhara
surabaya.tribunnews.com/sulvi sofiana
Muhammad Fadil 

SURYA.co.id | SURABAYA – Minimnya pengetahuan masyarakat Sampang akan aturan pelayanan publik kerap membuat masyarakat dirugikan dengan praktek pungutan liar yang dianggap wajar.

Melihat kondisi ini, Muhammad Fadil (22), mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bhayangkara (Ubhara) memutuskan menggali lebih dalam kondisi tersebut dalam skripsinya.

“Saya asalnya dari Sampang, dan saya paham betul pelayanan yang ada di kecamatan dan kabuaten. Masih ada pungli yang dilakukan oknum tertentu,” ungkap pria yang mengambil judul Perilaku Pegawai Dispendukcapil Dalam memberikan Pelayanan Publik Di Kabupaten Sampang tersebut pada SURYA.co.id, Selasa (16/10/2018).

Ia mengungkapkan, berdasarkan pengalamannya, terdapat tarif tertentu yang diterapkan oleh oknum. Dan ia menemukan pungli itu muncul karena ada kesempatan.

“Masyarakat Sampang masih minim pengetahuannya tentang itu, sehingga perlu dilakukan sosialisasi dan pendekatan dari pihak terkait,” ungkap pria yang akan mengikuti wisuda pada Rabu (17/10/2018).

Menurutnya kondisi ini juga didukung dengan kebiasaan masyarakat yang menyukai proses yang cepat dan efisien. Sehingga berapun akan dibayar agar cepat selesai.

“Saya penelitian tiga bulan di Sampang, Sebenarnya tidak ada kesulitan. Yang penting bisa mengatur deadline dan target. Meski saya di luar kota tetapi saya tetap menghubungi dosen melalui chat. Dan dosen pembimbing membuka bimbingan bukan melalui tatap muka tetapi melalui medsos misal lewat whatsapp dan Gmail,”ujar pria kelahiran 22 Oktober 1995 ini.

Risetnya ini juga membawanya meraih predikat mahasiswa terbaik di jurusannya.Meskipun sempat mengeluh selama prosesnya, tetapi Fadil mengungkapkan terus memotivasi diri dengan motto bahwa semua butuh proses kerja keras, usaha dan doa. “Alhamdulillah saya bisa menyelesaikannya tepat waktu,” pungkasnya.

Setelah proses revisi dan administrasi, Fadil bersama 901 wisudawan lainnya akan mengikuti Wisuda Sarjana Angkatan XLIX dan Magister Angkatan XXV tahun 2018 di Hotel Utami Juanda, Sidoarjo.

Rektor Ubhara, Edy Prawoto merinci wisudawan tahun ini terdiri dari 799 orang lulusan Program Sarjana dan 103 orang lulusan Program Magister.

Ia berpesan, dalam sebuah organisasi atau memimpin sebuah perusahaan, para lulusan Ubhara akan terlibat dalam interaksi-interaksi lokal. Ini penting untuk meningkatkan kapasitas organisasi / perusahaan. Tetapi untuk memperluas peluang-peluang bagi kemajuan, maka harus mengembangkan interaksi-interaksi lintas geokultural.

“Di arena bisnis, interaksi demikian akan membuka peluang untuk masuk ke dalam jejaring produksi global dan jejaring inovasi global. Jika bergerak di LSM dalam bidang lingkungan atau demokrasi, interaksi geokultural membuka peluang yang luas untuk pertukaran-pertukaran dalam kerangka kerja global maupun regional,” ujarnya.

Menurutnya, Isu lingkungan dan isu demokrasi bukan lagi hanya isu nasional, tetapi sudah menjadi isu lintas geokultural. Begitu juga di lembaga-lembaga pemerintahan, Millenium Developmen Goals (MDGs) menyediakan kerangka kerja untuk kolaborasi antar lembaga-lembaga pemerintahan dalam meraih tujuan pembangunan bersama.

“Dalam kondisi demikian saya harap para alumnus dapat melakukan kolaborasi atau bekerjasama guna membuka peluang lapangan kerja bagi lulusan Ubhara Surabaya,”urainya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved