Berita Surabaya

Pelajar SMA/SMK Serbu SKK Migas di Arena Jatim Fair 2018 di Surabaya

Para pelajar SMA dan SMK memadati booth SKK (Satuan Kerja Kontrak) Minyak dan Gas, di ajang pameran Jatim Fair 2018

Pelajar SMA/SMK Serbu SKK Migas di Arena Jatim Fair 2018 di Surabaya
Istimewa
Para pelajar saat memenuhi booth pameran SKK Migas dan mendengarkan penjelasan dari Muchammad Yani, dari PT PHE WMO, tentang eksplorasi. 

SURYA.co.id | SURABAYA  - Para pelajar SMA dan SMK memadati booth SKK (Satuan Kerja Kontrak) Minyak dan Gas, di ajang pameran Jatim Fair 2018 di Convention Hall Grand City, Surabaya, Sabtu (13/10/2018). 

Mereka mengikuti pemaparan materi tentang industri hulu Migas serta proses produksinya, yang diberikan perwakilan dari PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), 

Salah satu yang menarik bagi pelajar itu tentang eksplorasi atau pencarian ladang atau daerah yang mengandung minyak dan gas (migas).

"Eksplorasi atau pencarian migas terkadang tak membuahkan hasil. Jika eksplorasi gagal, perusahaan migas yang dikenal sebagai KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama) bahkan harus rela kehilangan uang hingga ratusan miliar dan pulang dengan tangan hampa," kata Muchamad Yani, Field Manager PHE WMO, saat memberikan materi tentang industri hulu Migas serta proses produksinya.

Informasinya itu merupakan jawaban dari seorang pelajar yang bertanya bagaimana perusahaan pengeboran migas tahu kalau di tempat itu ada migasnya. Dijelaskan Yani, pencarian sumber minyak maupun gas cukup sulit, butuh berbagai tahap yang panjang mulai dari uji seismik hingga mendatangkan alat-alat pengeboran ke lokasi. Proses ini membutuhkan modal yang tak sedikit, bisa sampai puluhan jutaan dolar Amerika Serikat (AS).

“Makanya ketika saat eksplorasi pertama, kedua dan ketiga serta ke empat kalinya, tidak ditemukan minyak atau gas yang menguntungkan secara ekonomis, maka akan dihentikan. Semua kerugian itu ditanggung KKKS nya. Negara kita baru akan ikut serta dalam permodalan jika migasnya sudah dieksploitasi," terang Yani.

Menurut Yani, siswa saat ini sudah banyak mendapat informasi dari media internet tapi tentunya sebagai penerus bangsa, mereka harus mendapatkan semangat yang besar dari pelaku industri migas sendiri sehingga di masa depan salah satu dari mereka bisa menjadi pakar migas.

"Indonesia harus punya lebih banyak pakar Migas, karena potensi minyak dan gas di Indonesia masih besar, terlebih di laut dalam. Kami harap dengan semangat yang ditunjukkan siswa saat ini mampu memunculkan pakar-pakar baru untuk dunia migas di masa depan," harapnya.

Ditambahkan, selama ini kandungan minyak dalam sumur, hanya sekitar 70 persen yang bisa diambil. Untuk menyedot seluruh potensi migas dalam sebuah sumur eksploitasi dibutuhkan teknologi yang lebih mahal. Kedepan pekerjaan rumah para generasi muda ini adalah menemukan cara untuk mengangkat 30 persen yang tersisa itu.

"Selain sharing ilmu pada para siswa SMA hari ini kami juga menampilkan produk olahan UMKM binaan dari CSR PHE WMO di Bangkalan dan Gresik. Sehingga masyarakat yang datang berkunjung ke stand SKK Migas juga mengetahui peranan kami dalam membangkitkan ekonomi masyarakat sekitar," ungkap Yani.

PHE WMO salah satu KKKS yang bekerja di bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas. KKKS yang memiliki wilayah produksi di lepas pantai Laut Jawa ini memiliki produksi gas hingga 130 MMSCFD. Naik 20 MMSCFD dibanding sebelumnya 110 MMSCFD..

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved