Sosok

Potret Delila Pitaloka Agustien Putri, Pemegang Sabuk Hitam Ilmu Bela Diri Kempo

di balik sikap lembutnya ternyata Delila Pitaloka Agustien Putri adalah pemegang sabuk hitam olahraga bela diri kempo

Potret Delila Pitaloka Agustien Putri, Pemegang Sabuk Hitam Ilmu Bela Diri Kempo
surya/sulvi sofiana
Delila Pitaloka Agustien Putri 

SURYA.co.id | SURABAYA - Penampilan anggun dan modis Delila Pitaloka Agustien Putri, tenaga kependidikan Universitas Narotama terlihat seperti wanita yang lemah lembut. Tetapi di balik sikap lembutnya ternyata gadis berusia 24 tahun itu adalah pemegang sabuk hitam olahraga bela diri kempo.

Delila mendalami olahraga tersebut sejak kuliah di jurusan Akuntansi Universitas Airlangga pada 2011. Sebelumnya, ia sama sekali tidak pernah mencoba olahraga bela diri.

"Awalnya ikut ekskul paskibra dan basket saat SMA. Tapi bosan jadi pingin hal baru waktu kuliah. Kebetulan juga penasaran ingin olahraga bela diri,” ungkap gadis kelahiran 31 Desember 1993 itu.

Dari semua Unit Kegiatan Mahasiswa yang menaungi olahraga bela diri, Delila akhirnya memilih untuk mendalami olahraga Kempo.

“Awalnya ingin Jujitsu. Tapi ternyata Jujitsu banyak gerakan bantingan, sementara aku punya trauma dengan bantingan karena pernah cedera saat melakukan gerakan rol belakang,” kenang alumnus SMAN 7 Surabaya ini.

Gerakan Kempo yang lebih kompleks dan rumit menjadi tantangan tersendiri bagi anak kedua dari empat bersaudara itu.

Meski gerakannya sulit dan ia harus belajar dari nol, ketekunan dan antusiasme Delila akan hal baru membuatnya cepat berkembang.

Sabuk hitam olahraga Kempo yang telah diperoleh Delila ternyata tidak membuatnya mau menerima tawaran untuk menjadi atlet.

Delila lebih memilih untuk menjadi pelatih Kempo untuk mahasiswa dan anak-anak.

“Saya ikut Kempo memang bukan untuk menjadi atlet, tapi lebih untuk mendapatkan nilai-nilai dari olahraga bela diri. Dari Kempo ini saya dapat pelajaran untuk lebih percaya diri, lebih disiplin, dan menghargai waktu. Hal-hal itu sangat berguna buatku di kehidupan dan itu sudah cukup,” katanya.

Keahlian Kempo yang ia miliki memang belum terpakai dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi Delila pernah hampir mengalami kejadian yang mengharuskannya menggunakan teknik Kempo yang ia miliki.

“Hampir terkena begal di area Surabaya Utara dikepung beberapa motor. Tetapi saat itu saya santai saja dan tetap mengendarai motor dengan tenang dan dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang. Kemudian sudah bersiap melepas tali helm, jadi ketika mereka mulai bertindak saya bisa refleks melepas helm untuk memukul. Tapi ternyata tidak kejadian. Ya bersyukur karena tidak sampai harus terlibat tindakan tidak menyenangkan,” ungkapnya.

Delila juga sudah pernah menjuarai beberapa kompetisi, antara lain meraih peringkat 3 kategori Randori (tarung bebas) dalam kompetisi tingkat Kota Surabaya dan meraih peringkat 2 dalam kompetisi tingkat nasional pada 2014.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help