Berita Surabaya

Mahasiswa STTS Rancang Game Penanggulangan Bencana, Ini Tujuannya

Ada lima scenario bencana, ada gempa, kebakaran hutan, banjir, badai. Kemudian ada pula situasi di pengungsian

SURYA.co.id | SURABAYA - Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS), Fernandito Stanford, membuat permainan game Save Your Soul sebagai permainan edukasi penanggulangan bencana.

Terinspirasi dengan luasnya pengetahuan anak-anak di Jepang akan penanggulangan bencana, sehingga ia mendesain permainan ini sebagai edukasi anak-anak akan bencana alam.

"Indonesia rawan bencana tapi edukasi untuk anak-anak masih kurang. Jadi jika anak main game ini, anak-anak bisa teredukasi jika terjadi bencana alam," ungkap pria kelahiran Surabaya, 9 Juli 1997.

Alumnus SMA Kristen Petra 1 ini mengungkapkan dalam game pemain bisa mengontrol karakter anak kecil. Tugasnya berinteraksi dengan lingkungan dan objek untuk melindungi diri dan menyiapkan diri saat ada bencana.

Ada lima scenario bencana, ada gempa, kebakaran hutan, banjir, badai. Kemudian ada pula situasi di pengungsian.

Dalam bermain, pemain harus melakukan tugas yang dilakukan sesuai dengan kondisi bencana. Seperti saat gempa, pemain diminta berlindung kemudian saat gempa selesai ada instruksi membawa barang berharga.

"Barang ini ada berbagai opsi seperti P3K, komik, dan lainnya, nanti di akhir permainan ada penilaian barang bawaan yang dibawa ini penting atau tidak,"ungkapnya.

Sementara untuk pengungsian digunakan untuk lebih melatih moral anak dalam bersikap dalam pengungsian. Seperti sikap antre setiap mendapat bantuan di pengungsian.

"Nah kalau tidak menjalankan instruksi akan game over, karena dianggap tidak menyelamatkan diri,"urai pria yang akrab disapa Dito ini.

Warga Wiyung ini mengungkapkan proses pembuatan game ini dari empat sampai lima bulan. Meskipun saat ini masih digunakan untuk permainan komputer, tetapi sudah bisa dikembangkan untuk mobile.

Bahkan justru lebih mudah karena hanya memanfaatkan tombol sederhana.

"Game ini juga tugas akhir saya, kesulitan penggambarannya karena 90 persen harus menggambar. Karena untuk menggambar objek yang konsisten agak sulit,"ungkap pria yang menggunakan tipe gampar pixel agar mirip seperti lego.

Humas STTS, Rara Dwi Yanti Handayani, mengungkapkan karya Dito mendapat apresiasi dari para pengujinya. Pasalnya secara teknik dan ide cerita sangat menarik.

"Momennya sesuai dengan kebutuhan indonesia saat ini. Selama ini yang diedukasi hanya dewasa, padahal anak kecil juga anak lebih yang butuh tanggap saat menangani bencana karena kerap dilupakan orang dewasa,"pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved