Berita Gresik

Kasus 3 Kades di Gresik Terjerat Korupsi Terus Berlanjut, Kades Sembayat dan Laban Dituntut 16 Bulan

Kasus tiga Kepala Desa (Kades) tersangkut korupsi terus berlanjut. Seorang kades mulai pelimpahan dari polisi ke jaksa.

Kasus 3 Kades di Gresik Terjerat Korupsi Terus Berlanjut, Kades Sembayat dan Laban Dituntut 16 Bulan
surya.co.id/sugiyono
KORUPSI - Kades Segoromadu, Kecamatan Kebomas, Samsul Huda berusaha menyembunyika wajahnya saat dibawa menuju rutan, Kamis (11/10/2018). 

SURYA.co.id | GRESIK – Kasus tiga Kepala Desa (Kades) tersangkut korupsi terus berlanjut. Seorang kades mulai pelimpahan dari Polres ke Kejaksaan Negeri Gresik, Kamis (11/10/2018). Sedang dua kades memasuki tahap penuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Surabaya.

Ketiga kades tersebut Kades Segoromadu, Kecamatan Kebomas, Samsul Huda (49), Kades Sembayat Kecamatan Manyar Saudji, dan  Kades Laban, Kecamatan Menganti Slamet Efendi.

Samsul huda diduga korupsi dana alokasi dana desa (ADD) sebesar Rp 244,494 juta. Sedang terdakwa Saudji disidangkan di pengadilan Tipikor Surabaya atas dugaan korupsi proyek saluran air di desa Sembayat senilai Rp 175 juta.

Kemudian  Slamet Efendi terjerat gratifikasi akibat meminta dana kepada masyarakat yang mengurus surat riwayat tanah dangan rata-rata mulai Rp 10 juta sampai Rp 25 juta.

Tim penyidik tindak pidana korupsi (Tipikor) Polres Gresik membawa tersangka Samsul Huda ke Kantor Kejari Gresik sekitar pukul 11.00 WIB. Tersangka langsung dibawa ke ruang penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Gresik. Hampir selama dua jam, tersangka baru keluar ke ruang penyidik pukul 14.00 WIB dengan mengenakan rompi tahanan warna oren dan tangan terborgol.

 Selama perjalanan ke mobil tahanan Kejari Gresik, tersangka Samsul Huda juga enggan menjawab pertanyaan wartawan. Tersangka langsung dibawa ke rumah tahanan (Rutan) di Jl Raya Cerme Desa Banjarsari Kecamatan Cerme.

Pengacara tersangka, Kaskan, mengaku akan mengajukan penangguhan penahanan sebab, tersangka diakuinya selama menjalankan proyek saluran air selalu menyelesaikan laporan secara rinci dan tuntas.

 “Kita tetap mengikuti prosedur hukum yang ada. Kita akan mengupayakan untuk mengajukan penangguhan penahanan. Sebab tersangka masih diperlukan di desa dan kita belum mengetahui adanya kerugian negara,” kata Kaskan, Kamis (11/10/2018).

Sedang Kasi Pidsus Kejari Gresik Andrie Dwi Subianto mengatakan penyidik telah menerima pelimpahan tahap II dari penyidik Tipikor Polres Gresik dengan tersangka Kepala Desa (Kades) Segoromadu. Sidang pun segera dijadwalkan.

“Jadwal sidang terhadap tersangka Samsul Huda segera kita tunjuk jaksanya,” kata Andrie.

Tersangka dikenakan Pasal 1, 2, dan 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Tersangka juga diancam dengan pidana penjara minimal empat tahun, maksimal 20 tahun.

 “Sebab dari audit inspektorat dan Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang Kabupaten Gresik ada 11 jenis proyek yang dikerjakan oleh tersangka. Di antaranya pembangunan saluran air dan jalan poros desa dengan anggarannya Rp 94 juta, ternyata proyek tersebut tidak sesuai rancangan anggaran belanja RAB, sehingga selisih Rp 74 juta,” katanya.

Terpisah, Kasus Kepala Desa Sembayat Kecamatan Manyar dengan terdakwa Saudji dan Slamet Efendi, Kades Laban, Kecamatan Menganti dituntut hukuman1,4 tahun.  

Penasihat hukum terdakwa, Sutrisno menganggap tuntutan terhadap kedua kepala desa tersebut wajar. Sebab keduanya telah mengembalikan kerugian negara.

Penulis: Sugiyono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help