Berita Surabaya

Dishub Surabaya Pecat Juru Parkir Nakal di Taman Bungkul

Dishub Kota Surabaya memecat tiga juru parkir (Jukir) yang dinilai nakal. Dua di antaranya adalah jukir di Taman Bungkul

Dishub Surabaya Pecat Juru Parkir Nakal di Taman Bungkul
surya/ahmad zaimul haq
Mesin parkir meter di Taman Bungkul, Minggu (17/12/2017). Sepuluh unit mesin parkir elektronik terpasang di Taman Bungkul. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dishub Kota Surabaya memecat tiga juru parkir (Jukir) yang dinilai nakal.  

Kepala UPT Parkir Surabaya Tranggono menuturkan bahwa pihaknya harus mengambil sikap tegas karena ketiganya sudah dipenuhi haknya. Mereka telah menerima honor atau upah per bulan sesuai besaran UMK Kota Surabaya yakni Rp 3,5 juta.

"Saatnya kami tuntut kewajiban mereka bekerja dengan melayani pemarkir dengan baik. Ketentuannya tak boleh membayar tunai di Taman Bungkul dan Balai kota. Rupanya ada tiga yang mokong," terang Tranggono, Kamis (11/10/2018).

Dua di antaranya adalah Jukir di Taman Bungkul dan satu lainnya Jukir di Balai Kota Surabaya. Tranggono merinci bahwa Petugas parkir di Taman Bungkul sengaja tak melakukan tapping (nontunai) dalam pembayaran parkir di tempat paling potensial ini.

Sebagaimana aturan yang berlaku di lokasi parkir Taman Bungkul dan Balai kota adalah para pemilik kendaraan wajib membayar nontunai. Caranya dengan tapping di alat parkir meter yang ditempatkan di sejumlah sudut. Tapping bebas dengan kartu nontunai yang dimiliki pemilik kendaraan.

Untuk tarif parkir motor di Taman Bungkul Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000. Rencana awal mau progresif namun gagal karena belum ada payung hukum atau Perdanya.

Jika pemilik kendaraan tidak punya kartu prabayar itu tetap tidak dibolehkan membayar tunai. "Petugas parkir sudah kami bekali banyak kartu nontunai itu. Tetap wajib tapping dan baru menggantikan dengan tunai," jelas Tranggono.

Namun dalam perjalanan waktu, ada dua Jukir yang ditengarai nakal. Mereka tidak melakukan tapping ke mesin alat parkir meter. Namun mereka tetap menarik tunai pemilik kendaraan. Praktik ini berlangsung lama.

Tranggono yang mengetahui masalah klasik itu langsung bertindak tegas. 

Selain dua Jukir di Taman Bungkul, seorang Jukir di Balai Kota Surabaya juga melakukan kesalahan yang sama.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved