Berita Surabaya

Anak dan Sahabat Cerebral Palsy Unjuk Gigi di Peringatan Hari Cerebral Palsy Dunia

Anak-anak Cerebral Palsy memperingati Hari Cerebral Palsy Dunia di Hotel Shangri-La, Surabaya.

Anak dan Sahabat Cerebral Palsy Unjuk Gigi di Peringatan Hari Cerebral Palsy Dunia
surabaya.tribunnews.com/delya oktovie
Grup Angklung YPAB membuka acara peringatan Hari Cerebral Palsy Dunia di Ballroom A, Hotel Shangri-La Surabaya, Kamis (11/10/2018). Acara ini digelar untuk mengenalkan cerebral palsy pada masyarakat luas, serta tindakan pencegahan apa yang bisa dilakukan sejak dini. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Alunan musik angklung  terdengar dari ruang Ballroom A Hotel Shangri-La Surabaya pagi itu, Kamis (11/10/2018).

Satu di antara lagu yang dibawakan adalah 'Semanggi Suroboyo', lagu keroncong yang bercerita tentang makanan khas Surabaya.

Lagu tersebut dimainkan oleh 17 anak tunanetra, yang tergabung dalam Grup Angklung Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya.

Mereka hadir sebagai sahabat cerebral palsy, mendampingi 70 kawan cerebral palsy untuk memperingati Hari Cerebral Palsy Dunia, yang digelar oleh Hotel Shangri-La bekerja sama dengan Yayasan Peduli Cerebral Palsy (YPCP).

"Ini pertama kali kami menggandeng Hotel Shangri-La. Sudah lama kami tidak mengadakan kegiatan semeriah ini. Dan kami mendorong semua pihak untuk bergabung dalam kegiatan sosial ini, dengan harapan memberi kesadaran apa itu cerebral palsy, bagaimana anak dengan cerebral palsy bisa berinteraksi dan memegang peran dalam kehidupan dan masyarakat, serta agar masyarakat umum bisa lebih memahami tumbuh kembang anak cerebral palsy," tutur Diah Anggraeny, ketua YPCP Surabaya.

Menurutnya, banyak orang tua maupun keluarga anak penyandang cerebral palsy yang sering terlambat menyadarinya.

Padahal, tindakan pencegahan bisa dilakukan sejak dini, agar keadaan anak tidak semakin parah.

dr. Adre Maiza, Sp.S (K), anggota sub divisi Neurobehavior dan Neuro Restorasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menyetujui pendapat Diah.

Namun, walau sudah diberi pencegahan sejak dini, bukan berarti pencegahan tersebut tepat bagi anak jika tidak ada koordinasi baik antara terapis, psikolog dan orang tua.

"Sekarang problemmnya orang tua tidak mengerti apa yang ditangani terapis. Harusnya ada jembatan antara terapis dan orang tua. Terapis lihatnya apa, psikolog lihatnya apa, orang tua lihatnya apa. Harusnya saling koordinasi, memberi alat ukur nilai dan target," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved