Lapor Cak

Sungai Kawasan Medokan Sawah Timur Surabaya Sering Bau

Berdasarkan pantauan SURYA.co.id, aliran sungai ini mengalir melewati kawasan Medokan hingga ke Laut.

Sungai Kawasan Medokan Sawah Timur Surabaya Sering Bau
surya.co.id/sulvi sofiana
Sungai Medokan Sawah Timur yang diduga kerap menimbulkan bau tak sedap setiap pagi mulai dikeluhkan warga, Minggu (7/10/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Belakangan sungai di kawasan Medokan Sawah Timur, Kelurahan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya mengeluarkan bau tidak sedap. Khususnya di area depan perumahan Taman Rivera.

Berdasarkan pantauan SURYA.co.id, aliran sungai ini mengalir melewati kawasan Medokan hingga ke Laut.

Warga Gunung Anyar Sawah, Agus Latif (38) mengungkapkan bau tidak sedap itu kerap muncul ketika kemarau. Saat debit air kecil, khususnya pagi hari bau kotoran selalu muncul.

"Nggak tahu asalnya dari mana, baunya seperti kotoran manusia. Gatau lagi itu limbah rumah apa dari industri,"ungkap pria yang sudah enam tahun berjualan es tebu di pinggir sungai ini.

Ia pun mengungkapkan bau itu sangat mengganggu khususnya bagi konsumennya. Apalagi bagi warga yang tinggal di sekitar sungai.

"Kalau bau itu warnanya hitam, sampai seperti oli bekas,"ujarnya.

Menurut bapak satu ank ini, petugas kebersihan rutin membersihkan sungai, tetapi hanya di pinggiran sungai saja. "Kalau baunya ya tetap. Harusnya dikasih obat deh,"lanjutnya.

Hal serupa diungkapkan Anisa Rahma, warga Medokan Ayu yang kerap melewati jembatan yang berda di atas sungai tersebut.

Menurutnya bau sungai itu sangat menyengat sepanjang pagi hingga siang. Padahal ukuran sungai cukup besar, namun menurutnya baunya seperti goy kotor.

"Kalau warga kan nggak tahu harus ngapain, kalau kerja bakti bisa ngilangin bau mungkin dilakukan. Sayangnya nggak karena aliran sungai kan panjang," keluhnya.

Ia pun berharap baik pihak kelurahan atau dinas terkait bisa menangani masalah bau sungai ini. Pasalnya baunya cukup mengganggu,khususnya bagi anak-anak yang butuh lingkungan sehat.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help