Berita Banyuwangi

Kisah Para Gadis Pendamping Pembalap International Tour de Banyuwangi Ijen 2018

International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) menyisakan cerita dari mereka yang terlibat di dalamnya.

Kisah Para Gadis Pendamping Pembalap International Tour de Banyuwangi Ijen 2018
surya.co.id/haorrahman
Yasinta (tengah) bersama pembalap Thailand Continental Cycling Team sesaat sebelum berangkat ke lokasi finis ‎ 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) menyisakan cerita dari mereka yang terlibat di dalamnya.

Seperti pengalaman para liaison officer (LO) selama mendampingi tim-tim peserta kejuaraan balap sepeda internasional tersebut.‎

Seperti LO Thailand Continental Cycling Team, Yasinta Tiara Dewi. Yasinta beruntung bisa terpilih menjadi LO atau penghubung ITdBI sejak tahun 2014 lalu. Dia pernah memandu dua tim Indonesia dan tiga tim asing.

“Menjadi LO itu susah-susah gampang. Tapi selama lima tahun ini, saya merasakan lebih banyak sukanya daripada dukanya. Kita bisa kenal orang baru, kultur yang berbeda-beda, dan pengalaman yang menyenangkan. Pokoknya seru deh jadi LO ITdBI. Rasanya kepingin ITdBi ini jangan berakhir. Diperpanjang satu minggu lagi juga gak apa-apa,” kata Yasinta.

Dia menceritakan pengalamannya saat mengajak tim yang dipandunya berkeliling untuk menjelajah kuliner Banyuwangi. Mulai dari nasi tempong, tahu petis, nasi goreng, mi goreng, hingga bakso.

“Tim Thailand ini suka banget sama tahu petis. Katanya rasanya unik dan nagihin,” kata Yasinta.

Pengalaman lainnya, Naomi Raisa Kartika, LO Uijeonbu Cycling Team asal Korea. Gadis berusia 24 tahun ini mengaku bangga bisa terpilih menjadi LO ITdBI karena bisa ikut menyukseskan salah satu event terakbar di Banyuwangi. “Ini pengalaman yang tak terlupakan. Pengalamannya macem-macem dan lucu-lucu,” kata dia.

Misalnya, saat dirinya mencoba menawarkan pisang ambon dan langsung ditolak oleh para pembalap karena mengira masih mentah.
"Awalnya mereka gak mau karena dikira masih mentah. Tapi setelah sedikit dipaksa, mereka mau mencoba dan ternyata suka. Malahan mereka bilang kalau ternyata pisang Banyuwangi rasanya manis meskipun warnanya hijau,” kata Naomi menirukan.

Selain kejadian menarik, Naomi pun mencerikan kepanikannya saat dirinya kehabisan stok coca cola untuk para pembalap. “Pembalap selalu minta coca coca kaleng. Saat itu saya sudah keliling ke banyak toko dan ternyata stocknya kosong. Sempat panik juga, tapi untung akhirnya bisa dapat meskipun harus keliling toko sampai malam,” kenangnya.

Kepanikan serupa juga dia rasakan pada etape kedua, Kamis (27/9), saat dirinya dikomplain pembalap karena Patwal yang akan mengawal tim ke lokasi start datangnya terlambat.

“Janjinya pukul 06.30 WIB sudah berangkat, ternyata jam segitu belum datang. Padahal orang Korea itu disiplin banget. Makanya mereka bad mood dan komplain ke saya karena waktu istirahatnya terpotong untuk menunggu. Sempat sedih juga sih, tapi ya sudah lah itu bagian dari resiko seorang LO,” ujarnya.

Penulis: Haorrahman
Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help