Lifestyle

Berawal Hobi Koleksi Barang Antik, Jam Tangan Kayu Eboni Milik Afidha Beromzet Rp 40 Juta Per Bulan

Limbah kayu pun bisa diubahnya menjadi produk bernilai tambah hingga berhasil di ekspor ke pasar mancanegara.

Berawal Hobi Koleksi Barang Antik, Jam Tangan Kayu Eboni Milik Afidha Beromzet Rp 40 Juta Per Bulan
surya.co.id/ arie noer rachmawati
Afidha Fajar Adhitya, pemilik Eboni Watch & Goods menunjukkan jam tangan kayu buatannya di MAKERFEST 2018 Surabaya, Minggu (30/9/2018). 

SURYA.co.id |  SURABAYA - Kreativitas para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tak akan pernah habisnya.

Limbah kayu pun bisa diubahnya menjadi produk bernilai tambah hingga berhasil di ekspor ke pasar mancanegara.

Afidha Fajar Adhitya, pemilik Eboni Watch & Goods mengatakan, alasan ia membuat jam tangan kayu lantaran hobby mengkoleksi barang-barang antik dan unik.

Tak hanya itu, sebenarnya jiwa kewirausahaannya pun sudah terlihat ketika ia merintis usaha kerajinan berbahan kulit seperti tas dan dompet.

"Jadi sebelum saya usaha jam tangan kayu ini, saya usaha kerajinan tas dan dompet dari kulit. Kemudian melihat jam tangan kayu ini banyak peminatnya, saya menjajal usaha ini," katanya kepada TribunJatim.com saat di MAKERFEST 2018 Surabaya, Minggu (30/9/2018).

Sebelum produksi sendiri seperti sekarang, Afidha mengakui bahwa ia bekerja sama dengan sebuah vendor di Klaten untuk menggarap jam tangan kayu Eboni.

Dia bercerita sempat kesulitan mencari bahan baku kayu untuk pembuatan jamnya hingga akhirnya menemukan suplayer kayu yakni berasal dari limbah kayu pabrik gitar di Klaten.

"Ini meski limbah, tetapi kualitas kayunya bisa dibilang grade paling tinggi. Jadi setelah ada suplayer, saya akhirnya produksi sendiri jam tangan kayu Eboni ini," ungkapnya.

Usaha yang dirintis sejak 2016 ini kini terus berkembang, bahkan Afidha juga memiliki karyawan yang membantu usahanya. Setidaknya memasuki tahun ketiga, ia telah memiliki 7 orang karyawan.

Bahkan, kini jam tangannya pun sudah di pasarkan ke luar negeri seperti Jerman, Inggris, Korea, Hongkong, Malaysia, Turki, Amerika, dan Jepang.

"Dalam sebulan, sebanyak 100 unit jam tangan kayu terjual dengan omzet kurang lebih Rp 30 juta sampai Rp 40 jutaan," tukasnya. (arie noer rachmawati)

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help