Bisnis

Pasar Nasabah DPLK Dari Kalangan Pekerja Informal Masih Sangat Besar

DPLK Manulife Indonesia agresif membidik nasabah dari kalangan pekerja informal yang pengajuan dan pembayaran preminya ada dukungan dari perusahaan.

Pasar Nasabah DPLK Dari Kalangan Pekerja Informal Masih Sangat Besar
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
Direktur & Chief Employee Benefits Manulife Indonesia, Karjadi Pranoto (tengah) melakukan sosialisasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Manulife di Hotel Shangrilla Surabaya, Kamis (20/9/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Manulife, Indonesia saat ini masih agresif membidik nasabah dari kalangan pekerja informal yang pengajuan dan pembayaran preminya ada dukungan dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Langkah ini dilakukan untuk lebih mengedukasi dan mensosialisasikan dana pensiun kepada karyawan dengan meminimalisir resiko-resiko pengurangan dari premi yang dibayarkan.

"Misalnya dua kali kena potong pajak. Tapi tidak menutup kemungkinan kami akan membuka program untuk pekerja informal, mengingat tren usaha saat ini bagi kalangan muda yang memilih wirausaha dibanding menjadi pekerja atau karyawan perusahaan," kata Karjadi Pranoto, Direktur & Chief Employee Benefits Manulife Indonesia, di sela kegiatan sosialisasi DPLK Manulife Indonesia di Surabaya, Kamis (20/9/2018).

Selain itu, perusahan juga memiliki manajemen yang lebih baik untuk karyawannya dimasa depan. Data Otoritas Jasa keuangan (OJK) 2017 menyebutkan jumlah peserta DPLK di tahun 2017 tercatat sebesar 3.055.617 pekerja.

Sementara itu, jumlah pekerja sektor formal yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 sebanyak 73,98 juta orang. Dengan demikian, dari data ini hanya ada sekitar 4 persen pekerja formal yang tergabung melalui kepesertaan DPLK.

“Melihat persentase yang rendah dari kepesertaan karyawan dalam dana pensiun, kondisi ini menjadi peluang dan potensi bagi DPLK Manulife Indonesia untuk terus menggarap pasar tersebut dan secara berkala melakukan sosialisasi peranan dana pensiun guna membangun kesadaran para pemberi kerja,” tambah Karjadi Pranoto. 

Pengelolaan dana pensiun merupakan nilai tambah bagi perusahaan sehingga mereka tidak hanya menjadi perusahaan yang memberikan manfaat keuangan secara reguler namun dapat memberikan manfaat kesejahteraan jangka panjang untuk karyawannya di masa depan maupun sebagai antisipasi terhadap risiko di kemudian hari seperti terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan.

Melalui program DPLK, beban perusahaan atau pemberi kerja untuk membayar sejumlah dana yang besar saat pekerja pensiun akan berkurang sehingga tidak mengganggu arus kas atau cash flow perusahaan.

Tentunya, DPLK juga dapat menjadi solusi yang lebih baik sehingga perusahaan dapat membayarkan kewajiban dana pensiun secara bertahap sejak dini kepada karyawan melalui DPLK.

Sebagai pelopor dalam bisnis program pensiun sejak tahun 1994, DPLK Manulife Indonesia saat ini melayani lebih dari 1.800 perusahaan dengan lebih dari 490.000 karyawan peserta. Dengan dana kelolaan mencapai Rp 15,3 triliun. Terbagi dalam dua produk DPLK, yaitu produk Pensiun Pasti senilai Rp 9 triliun dan Pensiun Kompensasi Pesangon mencapai Rp 6 triliun lebih.

Nilai itu membuat posisi Manulife Indonesia sebagai lembaga pengelola DPLK nomor 2 dari 24 DPLK di Indonesia.

Tags
DPLK
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help