Universitas Trunojoyo Madura

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura Diimunisasi, Cegah Jatim kembali KLB Difteri

Masyarakat Indonesia dikagetkan dengan munculnya 954 kasus difteri yang menimpa 170 kabupaten/kota di 30 propinsi pada 2017.

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura Diimunisasi, Cegah Jatim kembali KLB Difteri
SURYAOnline/ahmad faisol
Sejumlah mahasiswa baru Universitas Trunojoyo (UTM) menjalaniimunisasi difteri di kampus setempat, Kamis (20/9/2018). 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Masyarakat Indonesia dikagetkan dengan munculnya 954 kasus difteri yang menimpa 170 kabupaten/kota di 30 propinsi pada 2017. Dari jumlah kasus itu, sedikitnya 44 orang meninggal dunia.

Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) adalah 4,6 persen. Artinya, terjadi kematian 4-5 penderita dari 100 penderita difteri.

Mencegah hal itu terulang, Unicef mendatangi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dalam Talkshow ORI-Difteri bertajuk, 'Imunisasi dan Jalan Menjaga Aset Masa Depan Generasi' di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya UTM, Kamis (20/9/2018).

Kepala Perwakilan Unicef wilayah Pulau Jawa Arie Rukmantara mengungkapkan, pihaknya ingin memastikan mahasiswa UTM tak hanya unggul di bidang akakdemik. Tapi berkualitas dari segi kesehatan.

"Baru pertama ini imunisasi difteri menyasar dewasa tingkat mahasiswa. Program ini sudah dijalankan di seluruh kabupaten/kota di Jatim," ungkap Arie Rukmana.

Kehadiran Unicef di Bangkalan bukan tanpa alasan. Dari 30 propinsi, Jatim menjadi salah satu propinsi dengan jumlah 400 kasus difteri.

"Akhirnya KLB difteri di Jatim setelah 16 orang meninggal. Seharusnya saat itu, angka difteri di Jatim berada pada angka nol karena program imunisasinya sukses," jelasnya.

Ia menjelaskan, seluruh negara maju yang menjadi tujuan mahasiswa untuk melanjutkan studinya akan menanyakan tentang imunisasi difteri.

"Apalagi menetap, mahasiswa pendatang wajib menununjukkan bukti sudah diimunisasi difteri," pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Bangkalan Mohammad Rasuli mengungkapkan, cakupan kasus difteri tersebar di sejumlah desa di 10 kecamatan dari 18 kecamatan yang ada.

"Kecamatan Kota (5 kasus), Burneh (5), Sepuluh (2), dan masing-masing satu kasus di Kecamatan Kwanyar, Tragah, Klampis, Sepulu, Tanjung Bumi, Geger, Galis, dan Blega," ungkapnya.

Ia menjelaskan, penderita difteri terbanyak berada pada usia di atas 15 tahun dengan angka mencapai 45 persen.

"Usia 5-9 tahun dan 10-14 tahun mencapai 25 persen. Sedangkan usia 1-4 tahun berada pada angka 5 persen," jelasnya.

Ia menambahkan, pemberian imunisasi mayoritas terkendala para orang tua. Padahal pemberian imunisasi merupakan aset sehat untuk mencegah high cost pengobatan ketika sakit.

"Seperti halnya sebutan vaksin MR haram. Itu menjadi PR kami untuk menyadarkan masyarakat," pungkasnya.

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved