Rumah Politik Jawa Timur

La Nyalla Minta Polemik Soal Debat Capres Berbahasa Inggris Disudahi

Calon anggota DPD RI dari Dapil Jatim, La Nyalla Mahmud Mattalitti meminta agar polemik soal debat capres menggunakan bahasa Inggris diakhir.

La Nyalla Minta Polemik Soal Debat Capres Berbahasa Inggris Disudahi
surya/sri handi lestari
La Nyalla Mahmud Mattalitti. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti, berharap polemik soal debat berbahasa Inggris untuk calon presiden segera disudahi.

Menurutnya, isu itu sudah mengarah ke hal yang kontraproduktif karena kini berkembang menjadi ajang adu bully di media sosial.

“Polemik debat berbahasa asing ini, mulai Inggris sampai Arab, sudahi sajalah. Ini polemik yang nggak mutu. Sudah tidak produktif,” ujar La Nyalla kepada media di Surabaya, Senin (17/9/2018).

“Tenaga kita sebagai bangsa terkuras untuk hal-hal yang begini. Bangsa lain sudah berdebat soal robot dan pertanian dengan komoditas super, kita masih bertengkar soal debat pakai bahasa apa,” imbuh La Nyalla yang juga ketua Kadin Jawa Timur.

Baca: Ganti Rugi Tanah Belum Dibayar, Korban Lumpur Lapindo Tagih Janji Jokowi Saat Kampanye

Baca: Dikabarkan Sempet Bertemu Prabowo di Surabaya, Kemana Berlabuhnya Dukungan Gus Ipul?

Menurut La Nyalla, baikbagi pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, akan lebih elok jika perdebatan diarahkan ke hal-hal lain yang lebih strategis.

Di antaranya, permasalahan ekonomi, sosial-budaya, reformasi birokrasi, hingga pengembangan teknologi informasi.

“Perdebatan itu inti demokrasi, tapi kita tidak usah permasalahkan pakai bahasa apa. Yang jauh lebih penting adalah substansi debatnya,” kata La Nyalla.

Dengan mengakhiri polemik debat berbahasa asing, La Nyalla berharap energi bangsa, khususnya netizen/warganet, bisa tersalurkan untuk hal-hal yang lebih produktif.

“Jokowi dan Sandiaga Uno juga sudah menyatakan penggunaan bahasa dalam debat agar tak perlu lagi dipermasalahkan. Lebih baik energi kita yang melimpah ini disalurkan ke pekerjaan, keluarga, membantu teman yang sedang kesusahan. Bukan malah saling hina di media sosial,” pungkasnya. 

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help