Pilpres 2019

Khofifah Indar Parawansa Tak Sepakat Debat Capres Pakai Bahasa Inggris, Ini Alasan Rasionalnya

Gubernur Jatim terpilih periode 2019 -2024, Khofifah Indar Parawansa tak sepakat debat di Pilpres 2019 memakai Bahasa Inggris.

Khofifah Indar Parawansa Tak Sepakat Debat Capres Pakai Bahasa Inggris, Ini Alasan Rasionalnya
SURYA.co.id/Fatimatus Zahroh
Gubernur Jawa Timur terpilih periode 2019 -2024 Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri ground breaking gedung kelas internasional di Unipdu Jombang, Sabtu (15/9/2018). 

SURYA.co.id |JOMBANG - Gubernur Jatim terpilih periode 2019 -2024, Khofifah Indar Parawansa tak sepakat debat di Pilpres 2019 memakai Bahasa Inggris. 

Mantan menteri sosial Kabinet Kerja Joko Widodo (Jokowi) ini menganggap, debat berbahasa asing akan membuat warga masyarakat Indonesia semakin jauh dari nasionalisme. 

"Kita ini hidup di Indonesia. Debat itu tujuannya menyampaikan ide, gagasan, program, agar masyarakat Indonesia paham, bahwa kita sedang perproses," tutur Khofifah Indar Parawansa saat diwawancarai di Unipdu Jombang,  Sabtu (15/9/2018).  

"Menurut teman-teman, kalau debatnya dalam Bahasa inggris, yang paham siapa?" tanya Khofifah Indar Parawansa balik pada awak media.

Jika konteksnya berpidato dalam Bahasa inggris di khalayak umum, menurut Khofifah Indar Parawasan, bukan masalah. 

Namun untuk debat capres-cawapres harus dilihat kembali tujuannya.

Dimana tujuan utamanya adalah menyampaikan visi misi,  debat program, dan menyampaikan break down program,  maka menurutnya harus dibuat sejelas mungkin. 

"Jangan kemudian rakyat menjadi asing dari apa yang diharpkan kepada sosok calon pemimpin mereka. Kita punya Bahasa Indonesia, ya pakai Bahasa Indonesia dong. Kecuali ada negara yang tidak punya bahasa nasional," tambahnya.

Menurut Khofifah Indar Parawansa yang berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak dalam Pilgub Jatim 2018 lalu ini, format debat tidak baik jika dibuat rumit. 

"Jangan jauhkan nasionalisme dari bumi Indonesia," tandasnya. 

Lain halnya jika ada debat dalam konferensi internasional. Maka, berbicara dan debat dalam bahasa asing memang dibutuhkan. 

Tapi, jika untuk debat publik memilih pemimpin, maka menurut Khofifah Indar Parawansa, masyarakat butuh untuk mengukur. 

Masyarakat juga butuh pemahaman dan kenyamanan dalam seluruh debat publik dimana para calon menyampaikan visi dan misi mereka. 

"Kalau pakai Bahasa inggris nanti nggak komprehensif.  Pakai bahasa resmi sajalah, pakai Bahasa Indonesia," pungkas Khofifah Indar Parawansa

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved