Lifestyle

Terapi Psikis Kurangi Dampak Kanker pada Keluarga, 5 Fase Emosional ini Anda Perlu Tahu 

Mendapati diri terdiagnosa kanker merupakan hal berat bagi seseorang. Ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga psikis.

Terapi Psikis Kurangi Dampak Kanker pada Keluarga, 5 Fase Emosional ini Anda Perlu Tahu 
surya/ahmad zaimul haq
PENGOBATAN PSIKIS - dokter spesialis kejiawaan RS Adi Husada Ignatius Darmawan B saat memberikan pengobatan psikis kepada pasien kanker di Adi Husada Cancer Center (AHCC), Rabu (12/9/2018). 

“Dalam fase ini, timbul adanya rasa menyangkal pada diri pasien. Seperti ketidak percayaan. Kok bisa ya aku yang kena penyakit ini? Kenapa tidak orang lain,” ucapnya.

Fase kedua, anger atau kemarahan. Pasien yang terdiagnosa kanker tentu tingkat emosionalnya tinggi, dimana pasien terbukti lebih cepat marah. Fase berikutnya yakni bargainning atau tawar menawar.

“Bisakah aku berobat disini. Manakah pengobatan yang terbaik untukku. Fase dimana pasien sedang memilih mana pengobatan yang terbaik yang harus ia jalani,” terangnya.

Selanjutnya, fase depresi. Pada fase ini, tidak hanya pasien yang merasakan, tapi juga keluarga dan orang sekitamya yang berhubungan langsung dengan pasien. Pada keluarga, mereka akan depresi karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, baik untuk obat, kemoterapi dan radiasi.

Sedangkan depresi pada pasien, scperti menerima akibat dari segala pengobatan yang ia jalani. Fase terakhir yakni acceptance atau pasrah. Pasien dan keluarga sudah pasrah menerima penyakitnya.

Menurut dokter yang sudah 40 tahun tinggal di Surabaya ini, adanya supporting grup atau grup sesama penderita sangat membantu dalam mengobati psikis pasien. “Di dalam grup, mereka bisa saling sharing atau berbagi baik itu pengalaman, ataupun saling memberi kekuatan untuk berjuang, ” ungkapnya.

Ia menambahkan, psikis pasien kanker bisa terobati dengan adanya dukungan dari pihak keluarga dan orang terdekatnya. Keluarga tidak boleh seratus persen angkat tangan pasrah pada perawat. Karena dukungan cinta dari keluarga merupakan obat paling baik bagi penderita,” tegasnya.

Tidak sampai disitu, pihak keluarga juga harus memperhatikan para pendamping pasien. “Emosional para care giver harus diperhatikan. Jangan sampai ia terlalu lelah, yang nantinya berpengaruh pada caranya mendampingi pasien kanker,” pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved