Berita Surabaya

Sempat Nangis, Terdakwa Penipuan ke Pedagang Pasar Turi, Henry J Gunawan Ngotot Minta Bebas

Terdakwa kasus penipuan terhadap belasan pedagang Pasar Turi, Henry J Gunawan menangis saat disidangkan di PN Surabaya dan ngotot tak salah

Sempat Nangis, Terdakwa Penipuan ke Pedagang Pasar Turi, Henry J Gunawan Ngotot Minta Bebas
surabaya.tribunnews.com/sudharma adi
sda 

SURYA.co.id | SURABAYA - Terdakwa kasus penipuan terhadap belasan pedagang Pasar Turi sebesar Rp 1 Miliar, Henry J Gunawan rupanya tetap bersikukuh tak bersalah dalam kasus ini. Dia mengaku sudah mengembalikan uang beberapa pedagang yang dirugikan.

Pada persidangan di PN Surabaya itu, terdakwa Henry dan kuasa hukumnya sama-sama mengajukan pleidoi. Bos PT Bumi Gala Perkasa (GBP) ini lebih dulu diberi kesempatan mengajukan pleidoi di hadapan majelis hakim yang diketuai Rokhmat ini.

Dalam pleidoinya, dia menilai bahwa PT GBP tak pernah mengiming-imingi sertifikat strata title pada para pedagang Pasar Turi. Ketika ada pedagang yang ingin uangnya dikembalikan, maka dia pun berusaha menemui mereka dan mengembalikan uangnya.

“Saya sudah berusaha menemui mereka, tapi sebagian besar pedagang tak mau uangnya dikembalikan. Hanya sebagian kecil yang mau menerima uangnya,” terangnya, Rabu (12/9).

Dia juga berdalih bahwa saat membangun Pasar Turi, dia juga melakukannya maksimal. Sesuai target, sebenarnya ada 8 lantai yang digarapnya. Namun, dia menggarap hingga 9 lantai, meski tambahan lantai itu dinilai tak punya nilai ekonomis.

“Saya juga membangun masjid, sebagai tempat ibadah para pedagang Pasar Turi,” katanya.

Makanya, dengan adanya dakwaan ini, dia merasa nama baiknya tercemar dan rusak. Dia pun sempat menangis ketika meminta hakim untuk membebaskan dari segala tuntutan hukum.

“Saya ingin bebas murni, karena kasus ini sebenarnya perdata,” ujarnya.

Senada dengan Henry, tim penasehat hukum yang diwakili Yusril Ihza Mahendra, membaca berkas pleidoi setebal 180 halaman. Mereka juga menganggap kasus tipu gelap ini bukanlah ranah hukum pidana melainkan kasus perdata.

"Jadi pada dasarnya bukan rangkaian kebohongan dan lebih berupa cidera janji,” jelas Yusril saat membacakan nota pembelaannya.

Sementara, menyikapi pembelaan terdakwa Henry, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis mengaku akan mengajukan perlawanan yang sedianya akan dibacakan pada persidangan mendatang.

"Kami akan ajukan replik," kata Jaksa Darwis yang disambut ketukan palu hakim Rokhmat sebagai tanda berakhirnya persidangan.

Untuk diketahui, kasus ini dilaporkan 2015 lalu di Polda Jatim. Namun saat penyidikan, kasus yang merugikan 12 pedagang Pasar Turi sebesar Rp 1.013.994.500 itu akhirnya diambil alih Bareskrim Polri.

Dari situ, hasil penyidikan, Henry J Gunawan ditetapkan sebagai tersangka hingga statusnya pun berubah menjadi terdakwa karena perkaranya telah disidangkan di PN Surabaya.

Dugaan penipuan Henry J Gunawan ini dilakukan pasca terbakarnya Pasar Turi. Saat itu Henry sebagai investor kembali membangun pasar turi dan menjual kios baru pada sejumlah pedagang.

Saat penjualan kios itulah, bos PT GBP ini menjanjikan adanya sertifikat strata title pada para pembeli kios. Dengan dalih bisa memperkaya pedagang lantaran bisa dijaminkan ke bank.

Tertarik dengan progam Henry pada penjualan stand yang bersertifikat strata title, para pedagang akhirnya menyetujui pelunasan 80 persen atas pembelian stand tersebut dan melakukan penandatanganan PPJB.

Pelunasan pembayaran 80 persen itu dilakukan pada Oktober 2013, yang terdiri dari pembayaran sertifikat sebesar Rp 10 juta/stand, pembayaran BHTB sebesar 5 persen dari harga stand dan pembayaran Notaris sebesar Rp 1,5 juta/stand.

Sedangkan yang 20 persen dibayar pedagang secara mengangsur mulai bulan Maret hingga Desember 2012 dan pelunasan 80 persennya hingga Desember 2013 mencapai 1,3 triliun lebih.

Namun setelah lunas pembayaran 80 persen dibayar oleh pedagang, janji Henry tak kunjung terealisasi. Pada pertengahan Oktober 2014, para pedagang akhirnya mengkroscek kebenaran janji Henry yang bisa membuat standnya bersertifikat strata title ke Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Pada pertemuan dengan pedagang, Risma menyatakan kalau Pasar Turi tidak bisa strata title karena takut ditangkap KPK. Pernyatan Risma itu akhirnya diklarifikasikan ke Henry.

Namun kedatangan para pedagang justru malah disambut sikap arogan dari Henry, dengan mengusir dan mengancam pedagang akan menghanguskan stand kios yang telah dibeli mereka.

Kasus in akhirnya terungkap setelah diketahui bahwa pengajuan sertifikat strata title itu baru diajukan ke Pemkot Surabaya pada 7 Oktober 2014 dan ditolak oleh Pemkot Surabaya pada 14 Oktober 2014, Padahal program penjualan stand bersertifikat strata title itu sudah dibayar lunas para pedagang pada 2013. 

Penulis: Sudharma Adi
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved