Sambang Kampung Dupak Bandarejo

Kartar Dupak Bandarejo Galakkan Kampung Literasi, Prihatin Banyak Anak Nongkrong di Warung Wi-Fi

Fenomena ini mendorong Nungki Paulina Rusdianti (24) dan kawan-kawan sejak 2016 lalu menggalakkan literasi di kampung mereka.

Kartar Dupak Bandarejo Galakkan Kampung Literasi, Prihatin Banyak Anak Nongkrong di Warung Wi-Fi
surya/delya octovie
Kini anak-anak Dupak Bandarejo mulai gemar membaca di Taman Baca Masyarakat dan mengikuti program-program kartar. 

SURYA.co.id |SURABAYA – Minimnya minat baca sekaligus penggunaan gawai berlebih mengkhawatirkan Karang Taruna Dupak Bandarejo, Surabaya.

Lebih-lebih, mereka masih anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Fenomena ini mendorong Nungki Paulina Rusdianti (24) dan kawan-kawan sejak 2016 lalu menggalakkan literasi di kampung mereka.

“Kami ingin mengajak generasi muda gemar membaca. Zaman sekarang anak sini lebih tertarik pada gadget, warung Wi-Fi dan warnet. Adik-adik sekarang sukanya instan, buku juga jarang baca," ungkapnya.

Jadi kami bagaimana caranya menumbuhkan minat baca, khususnya untuk anak-anak SD kelas 1-6,” tutur sekretaris karang taruna sekaligus Ketua Pemuda Penggerak Literasi tersebut, Rabu (12/9/2018).

Dupak Bandarejo pun berhasil meraih Juara III Surabaya Akseliterasi, Juara I Kampung Pendidikan dan Juara I Pemuda Penggerak Literasi di ajang Inisiasi Kampung'e Arek Suroboyo (IKAS).

Ia bercerita sebelum Kampung Literasi digerakkan, bocah-bocah Dupak Bandarejo terpaku dengan gadgetnya dan melupakan permainan tradisional.

Setelah maghrib, anak-anak berkeliaran di sekitar kampung, nongkrong di warung Wi-Fi dan warnet.

“Sekarang sudah berkurang. Kartar mengusahakan kalau olahraga selalu menggunakan permainan tradisional seperti egrang atau lari dengan klompen. Lalu saat ini mulai pukul 18.00-21.00 WIB, anak-anak diwajibkan belajar didampingi orang tua di rumah. Kalau bermain di warung atau warnet, dibatasi sampai pukul 22.00 WIB,” jelasnya.

Kasekdas Linmas Dupak ini menjelaskan perilaku tersebut dapat berkurang seiring rajinnya kartar menjalankan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta kegiatan-kegiatan positif lainnya.

Beberapa di antaranya adalah pengadaan Forum Diskusi Anak, bimbingan belajar, tari remo, hingga pelatihan software Autocad.

Tiap seminggu sekali, kartar akan berkeliling ke tiap RT untuk mengumpulkan buku bekas, lalu disortir dan ditaruh di Warung Baca.

Sedangkan TBM ditempatkan di RT 08 dan RT 11 RW 3 Dupak Bandarejo.

Isinya adalah berbagai buku, komputer, TV dan proyektor yang dikelola Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya bersama kartar.

“Anak-anak suka ke TBM karena kadang kami ada program Forum Diskusi Anak, di situ kami bawa materi lalu video animasi lucu ditampilkan di proyektor, misal video tentang belajar membaca. Setelah itu didiskusikan. Kebanyakan yang berminat anak TK dan SD kelas 1 dan 2,” jelasnya.

Ketika mengadakan forum maupun bimbel, penggunaan gadget dilarang, dan kartar selalu menyarankan orang tua untuk ikut supaya mengerti apa kegiatan anaknya.

Orang tua juga akhirnya bisa ikut membantu anak mengerjakan PR yang seringkali mereka bawa ke TBM, dan dibantu pula oleh petugas.

TBM buka setiap hari mulai pukul 07.00-12.00 WIB, lalu 13.00-16.00 WIB, dan dilanjut lagi 19.00-22.00 WIB.

Nungki mengaku tak semudah itu membuat anak-anak jatuh cinta dengan dunia literasi, apalagi bagi anak-anak yang cukup sulit dinasehati.

“Harus ada pendekatan personal. Ada pendampingan khusus untuk anak-anak yang istilahnya ndablek, yang pergaulannya jelek. Waktu itu ada anak yang masih kelas 4 SD tapi sudah merokok. Itu sama anak-anak kartar diberi pendekatan khusus. Kami datang ke rumahnya, mendekati orang tuanya, mencari tahu permasalahan sekaligus pemecahannya,” ungkapnya.

Kegigihan Nungki dan kawan-kawan berbuah manis.

Banyak anak-anak yang mulai mengubah perilaku mereka.

Ia menyebut ada anak perempuan kelas 4 SD yang dulu seusai maghrib selalu meminta gawai ke orang tuanya, lalu pergi ke warnet untuk bermain Mobile Legend.

Orang tuanya sering kesulitan mencarinya karena ia tak kunjung pulang.

“Akhirnya setelah sosialisasi wajib belajar dan jam maksimal warnet, dia tidak begitu lagi, tiap habis maghrib di rumah. Nah sekarang dia justru bagus di bidang tari. Kami kan punya pelatihan tari remo tiap hari Jumat bekerja sama dengan Perguruan Seni Budaya Kampung Ilmu, ternyata dia pintar menari,” katanya.

Satu di antara orang tua yang anaknya sering mengunjungi TBM adalah Jufri.

Anak perempuannya yang berusia 6 tahun, Fika, senang membaca buku-buku cerita di TBM.

“Saya senang dengan adanya TBM, soalnya dia bisa mendapat wawasan luas. Dia ke TBM setiap sore kalau tidak ada les, sedangkan di rumah saya punya perpustakaan pribadi,” ujarnya.

Jufri pun berharap TBM Dupak Bandarejo bisa semakin meningkat kualitasnya, serta koleksi buku diperbanyak dan diperbarui. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help