Berita Roy Suryo

Garasi Penuh Perabotan Kemenpora Sempat Bikin Roy Suryo Kesulitan Masuk Rumah

Roy Suryo sempat kesulitan memasuki rumahnya karena penuh dengan barang-barang Kemenpora.

Garasi Penuh Perabotan Kemenpora Sempat Bikin Roy Suryo Kesulitan Masuk Rumah
Tribunnews/FX ISMANTO
Roy Suryo diduga membawa 3.226 unit barang milik negara. 

Dalam mediasi kurang dari satu jam itu, Sekretaris Menpora Gatot S Dewa Broto mengaku telah menjelaskan kronologi kejadian hingga pengembalian barang-barang yang sudah dilakukan oleh Roy Suryo.

Menurutnya, Kemenpora telah empat kali menyurati Roy Suryo berisi permintaan pengembalian sejumlah barang milik negara, dalam hal ini Kemenpora.

Pertama, surat dari Inspektur Jenderal Kemenpora sebagai perwakilan Menpora dikirimkan pada akhir 2014 atau beberapa bulan setelah Roy Suryo tidak lagi menjabat sebagai Menpora.

Kedua, yakni surat serupa dikirimkan pada 2015. Namun, surat tersebut tidak sampai kepada Roy Suryo.

Setahun berikutnya, Kemenpora kembali melayangkan surat serupa. Surat tersebut ditandatangani oleh Menpora, Imam Nahrawi.

Surat tersebut mendapatkan respons dengan adanya pengemnbalian sejumlah barang. Namun, saat itu jumlah barang yang diminta dikembalikan tidak seusai dengan yang dimintakan oleh Kemenpora. Saat itu, barang-barang yang dikembalikan hanya senilai Rp 500 juta.

"Ternyata pengembalian barang itu tadi juga dilaporkan oleh anak buah saya itu bertahap sampe tiga kali pengembalian tapi total itu nilainya sekitar 500 juta. Sekarang barangnya ada di Bogor," kata Gatot.

Terakhir, Kemenpora mengirimkan surat pada Mei 2018. Surat itu dikirim atas dasar adanya temuan dari audit yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyebutkan pengembalian barang itu belum selesai.

Setidaknya ada 3.226 item barang atau senilai sekitar Rp 9 miliar yang belum dikembalikan oleh Roy Suryo.

"Nah, kenapa sekarang muncul lagi, itu karena perintah dari BPK. Tadi saya sebutkan kepada beliau, dokumen saya tunjukkan tadi. Jadi, pada saat itu BPK mengatakan, sebelum menjadi LHP (laporan Hasil Pemeriksaan)”.

Halaman
1234
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help