Sambang Kampung Dupak Bandarejo

Cara Warga Dupak Bandarejo Surabaya Jaga Kesehatan, 100 Jenis Toga Ditanam dalam Pot

September 2017, mereka mengikuti pembinaan Toga oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya, sebagai kegiatan pengobatan alternatif puskesmas.

Cara Warga Dupak Bandarejo Surabaya Jaga Kesehatan, 100 Jenis Toga Ditanam dalam Pot
surya/delya octovie
Beny Aria (kerudung oranye) menunjukkan beberapa koleksi Toga di depan rumahnya, Rabu (12/9/2018). 

SURYA.co.id, SURABAYA – Beny Aria telah memiliki tanaman obat keluarga (Toga) sejak 2005. Namun, saat itu pencipta Sule Katuk (Susu Kedelai Katuk) itu masih menggunakannya untuk keperluan sendiri.

Tetangga-tetangganya juga belum banyak yang budidaya tanaman tersebut.

Baru ketika lomba penghijauan di 2010, warga Dupak Bandarejo menambah koleksi Toga mereka.

“Kan mudah ya penanamannya. Tinggal potong tancap saja. Lalu hasilnya dikasih ke tetangga-tetangga, akhirnya semakin banyak yang memiliki tanaman Toga,” ujar Ari.

September 2017, mereka mengikuti pembinaan Toga oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya, sebagai kegiatan pengobatan alternatif puskesmas.

Ari termasuk satu di antara kader yang dibina meramu toga, hingga akhirnya ditunjuk menjadi ketua Toga Sari.

“Kader-kader lain juga mulai pintar. Akhirnya saya kembangkan di masyarakat, ibu-ibu PKK, ke kampung juga. Saya memberitahu kalau Toga lebih bagus sebelum sakit datang, jadi untuk mencegah penyakit,” terangnya.

Warga pun mulai tertarik, apalagi Ari sering membuat contoh minuman herbal yang dibagikan ke orang-orang.

Kini, Kampung Dupak Bandarejo memiliki hampir 100 macam Toga yang ditanam di pot-pot tiap rumah. 

Ari sendiri memiliki 65 jenis Toga yang nantinya dibuat menjadi minuman herbal untuk kesehatan.

Ari biasanya akan memetik daun Toga, kemudian direbus bersama gula merah atau kayu manis agar tidak hambar maupun pahit.

“Kalau saya rutin konsumsi daun salam, itu untuk penurun darah tinggi, kolesterol dan asam urat. Daun salam direbus, dicampur kayu manis, jahe, serai, gula merah, dan ditambah sedikit ketumbar. Enak, efeknya tubuh jadi terasa enteng,” akunya.

Selain Ari, teman kadernya juga ada yang merasakan manfaat Toga.

Ia bercerita ibu temannya tersebut mengidap stroke, lalu ia mencoba membuat ramuan dari karet kebo.

“Alhamdulillah sudah membaik, sekarang bisa jalan. Kan karet kebo fungsinya memperlancar darah,” katanya.

Budaya berbagai dilakukan oleh warga, utamanya soal Toga.

Ari menyebut warga tak segan memberi Toga pada mereka yang membutuhkan.

Beberapa justru mendapat rezeki dari tanaman tersebut, seperti dirinya.

“Kadang ada yang meminta Toga. Saya memang  tidak berniat menjual. Tetapi kadang diberi Rp 10.000-20.000,” ucapnya. 

 
 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved