Rupiah Masih Melemah, Indonesia Justru Masuk 8 Negara dengan Risiko Krisis Paling Kecil, Kok Bisa?

Nomura Holdings Inc menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam 8 negara berkembang yang dipandang memiliki risiko paling kecil terpapar krisis moneter

Rupiah Masih Melemah, Indonesia Justru Masuk 8 Negara dengan Risiko Krisis Paling Kecil, Kok Bisa?
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Rupiah Masih Melemah, Indonesia Justru Masuk 8 Negara Berkembang dengan Risiko Krisis Paling Kecil 

Pemerintah Bulgaria tengah mengusahakan keanggotaan mata uang euro dan uni perbankan Uni Eropa hingga Juni 2019 mendatang.

Oleh karena itu, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi perekonomian Bulgaria.

Hal ini turut membuat perekonomian negara tersebut cenderung solid.

Beberapa syarat itu antara lain perbaikan bingkai kerja keuangan makro, memperkuat pengawasan sektor keuangan non-bank, serta upaya lebih keras dalam memberantas pencucian uang.

Dilansir dari Reuters, inflasi Bulgaria cenderung rendah. Selain itu, anggaran Bulgaria pun mengalami surplus dan rasio utang pemerintah cenderung rendah.

5. Peru

Nilai tukar peso Peru turut melemah terhadap dollar AS, mengikuti negara-negara berkembang lainnya sejalan dengan krisis keuangan yang terjadi di Argentina.

Meski demikian, perekonomian negara di Amerika Selatan tersebut terus memperlihatkan peningkatan yang signifikan.

Pertumbuhan ekonomi Peru didukung investasi swasta yang terus meningkat porsinya.

Pada tahun 2019 mendatang, pertumbuhan investasi swasta diprediksi mencapai 7,9 persen, naik dari 5 persen pada tahun 2018 ini.

Salah satu pendorong utama investasi swasta adalah proyek-proyek pertambangan. Investasi pemerintah juga diperkirakan tumbuh 14 persen tahun ini.

6. Filipina

Pertumbuhan ekonomi Filipina dihantui beberapa risiko, antara lain inflasi yang tinggi dan risiko eksternal.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi negara tetangga Indonesia tersebut masih cukup tinggi, yakni 6 persen pada kuartal II 2018.

Bank sentral Filipina menyatakan, perekonomian Filipina cukup resilien menghadapi risiko eksternal, termasuk krisis di sejumlah negara berkembang, seperti Turki dan Argentina.

Gubernur Banko Sentral Ng Filipinas Nestor Espenilla mengungkapkan, fundamental ekonomi Filipina sangat bagus.

"Pertumbuhan (ekonomi) kita sangat kuat, posisi fiskal kita tersusun rapi, dan posisi eksternal kita cenderung baik meski defisit, serta rasio utang rendah," kata Espenilla seperti dikutip dari Philippines Star.

7. Rusia

Perekonomian Rusia dihantui sejumlah risiko, seperti dijatuhkannya sanksi oleh AS hingga krisis.

Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi negara tersebut dipandang memiliki prospek yang cukup baik, meski diyakini tak akan terlalu tinggi.

Menurut Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev, ada sejumlah indikator perekonomian Rusia yang tercatat baik.

Rasio utang luar negeri telah mencapai level minimun.

Selain itu, daya saing industri manufaktur Rusia juga menguat, serta substitusi impor terjadi di sejumlah segmen.

Kemudian, ekspor non-migas juga tumbuh positif, termasuk peningkatan peran sektor keuangan.

8. Thailand

Berkebalikan dengan negara-negara berkembang lainnya, nilai tukar baht Thailand justru menguat.

Bahkan, baht merupakan mata uang berkinerja terbaik di Asia dan nilainya terus stabil sepanjang tahun.

Perkasanya baht merupakan dampak dari fundamental ekonomi Thailand yang kuat.

Inflasi di Negeri Gajah Putih tersebut rendah dan surplus transaksi berjalannya pun besar.

Dilansir dari VOA, besarnya surplus transaksi berjalan Thailand sebagian didorong pertumbuhan sektor pariwisatanya yang sangat kuat.

Surplus transaksi berjalan mendukung kuatnya nilai mata uang suatu negara dan berarti negara tersebut kurang bergantung pada mata uang asing.

Selain itu, Thailand adalah eksportir besar mobil dan barang-barang lainnya, yang juga memberikan kontribusi penting terhadap surplus transaksi berjalan.

Disamping itu, Nomura Holdings Inc juga membeberkan 7 negara berkembang berisiko terkena krisis nilai tukar, menurut analisis teranyar Nomura Holdings Inc.

Tujuh negara tersebut antara lain Sri Lanka, Afrika Selatan, Argentina, Pakistan, Mesir, Turki, dan Ukraina.

Dikutip dari The Star Online, Senin (10/9/2018), 5 dari 7 negara tersebut sudah dalam kondisi krisis nilai tukar atau berpartisipasi dalam program yang diinisiasi Dana Moneter Internasional (IMF).

Dengan demikian, yang tersisa hanya Afrika Selatan dan Pakistan.

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Musahadah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved