Travel

Museum Reenactor Malang, Tujuan Wisata Anyar untuk Pecinta Sejarah

Berawal dari komunitas yang didirikan pada 2007 ini, digagaslah Museum Reenactor Malang pertama di Indonesia.

Museum Reenactor Malang, Tujuan Wisata Anyar untuk Pecinta Sejarah
surya/benni indo
Mohammad Fariz saat berada di dalam Museum Reenactor Malang di Sumbersari, Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (11/9/2018). 

Barang-barang itu berupa gerobok, kursi, meja, sepeda dan koper besi. Soemitro pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon I di Malang.

Barang-barang itu didapat dari warga yang menyumbangkannya secara sukarela.

Kata Farid, Soemitro dahulu pernah tinggal di sebuah rumah yang dekat dengan museum itu.

Saat itu, Soemitro memimpin perang gerilya menghadapi Belanda yang masuk ke Kota Malang.

“Di rumah itu, Soemitro menyusun strategi perang saat terjadi agresi militer,” kata Farid yang menjelaskan rumah tersebut berada di gang tiga kawasan itu.

Ditambahakn Farid, Malang saat itu dikuasai Belanda pada dekade 1947-1949.

Mayor TNI Hamid Roesdi, atasan Soemitro saat itu menyuruh mundur ke beberapa daerah.
Tapi masih ada Gerilya Rakyat Kota (GRK) yang melakukan perlawanan.

Markas GRK ada dua, yakni di Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Di Kota Malang, lokasinya berada di Sumbersari.

Seomitro dan pasukkannya selalu berangkat sebelum subuh dan pulang saat malam hari ke markas. Itu dilakukan setiap hari.

Kehadiran barang-barang itu tentunya menjadi nilai sejarah tersendiri, khususnya bagi pengelola museum.

“Karena di sini kampung sejarah, kami adakan museum ini,” tegasnya.

Selain mendapatkan barang dari sumbangan warga, beberapa benda di dalam museum didapatkan dengan cara berburu sendiri.

Pengelola museum berburu ke tempat-tempat rombengan untuk menemukan barang-barang bersejarah.

“Jadi kalau ke kota mana, terus datang ke pasar rombengan. Dibeli satu-satu, kemudian dirakit,” tutur Farid saat menjelaskan sebuah sepeda yang sering digunakan tentara Nazi di dalam museum.

Farid berharap, kehadiran Museum Reenactor Malang bisa memberikan nilai positif bagi masyarakat sekitar, khususnya para generasi muda.

Edukasi sejarah kepada masyarakat merupakan upaya mengenalkan jati diri bangsa.

Museum ini secara resmi akan diperkenalkan ke publik, Jumat (14/9/2018) saat ada festival di kampung itu.

Penulis: Benni Indo
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help