Single Focus

Firman Baru Tahu Prestasi Robotik Bisa Masuk Sekolah Favorit lewat Jalur Prestasi

Firman Fathoni kecil sangat suka menonton film-film bertema robot, layaknya Transformers dan Iron Man.

Firman Baru Tahu Prestasi Robotik Bisa Masuk Sekolah Favorit lewat Jalur Prestasi
surya/delya octovie
Firman Fathoni (kanan) berfoto dengan puluhan penghargaan nasional maupun internasional dari menekuni robotik sejak SD. 

Ia mengaku ikut ekstrakurikuler robotik karena memang berminat di bidang itu. Ia justru baru mengetahui adanya japres yang memungkinkannya masuk ke SMP favorit saat kelas 6 SD.

SURYA.co.id, SURABAYA – Firman Fathoni kecil sangat suka menonton film-film bertema robot, layaknya Transformers dan Iron Man.

Kesukaan tersebut berubah menjadi ketertarikannya untuk membuat robot ala dirinya sendiri.

Firman pun memantapkan diri bergabung dengan ekstrakurikuler robotik ketika  kelas 3 SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.

“Sebelum join ekskul robotik, saya belum pernah coba-coba bikin robot sendiri, karena tidak tahu tempat membeli sparepart robot,” tuturnya ketika ditemui di rumahnya daerah Klampis, Minggu (9/9/2018).

Remaja usia 15 tahun tersebut mengoleksi total 31 penghargaan nasional maupun internasional sejak SD.

Beberapa prestasi yang ia raih selama SD adalah Pemenang ICT Award (INAICTA) 2015 untuk penemuan Secure Bag, Juara 2 (MERIT) Asia Pacific ICT Alliance di Sri Lanka, (APICTA) 2015, dan Juara 1 RoboCup Junior Rescue Line 2016 di Singapura. 

Sedangkan ketika SMP, penghargaan yang ia bawa pulang di antaranya Runner Up Singapore Robotic Games 2018, Bronze Medal International Conference of Young Scientist 2018 di Serbia, dan Juara 1 2nd ASEAN Mate Underwater Robot Competition 2018 di Indonesia.

Meski telah menggondol banyak trofi ketika SD, Firman mengaku tidak tahu jika pencapaian-pencapaiannya tersebut bisa dijadikan batu loncatan menuju SMP favorit lewat jalur prestasi (japres).

“Awalnya tidak tahu, tahunya waktu sudah kelas 6 SD. Saya ikut robotik kan memang ingin mengembangkan bakat saja. Baru tahu kalau ada jalur TPA dan japres. Karena nilai saya juga lumayan bagus, ya sudah pakai japres, jadi tanpa tes lagi,” jelasnya.

Ia mengatakan teman-temannya juga tidak banyak yang tahu soal itu.

Tetapi kini setelah ia menjadi siswa SMP Negeri 1 Surabaya, ia menemui banyak kawannya yang minat di bidang robotik agar bisa masuk ke SMA favorit.

Firman juga menyebut ia tidak diminta orang tuanya untuk selalu mencetak prestasi.

“Menang alhamdulillah, kalau tidak ya buat pengalaman. Lalu biasanya ada kan orang tua yang pokoknya non akademis didulukan. Kalau orang tua saya asal akademis bagus tidak apa-apa nonakademis dijalankan. Percuma japres kalau nilai akademis jelek,” tandasnya. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved