Berita Surabaya

Karya Seninya Kerap Jadi Banner Unjuk Rasa, Begini Komentar Seniman Asal Malang

Karya seniman ini sering dijadikan banner untuk unjuk rasa. Kini karya-karyanya dipamerkan di Artotel Surabaya

Karya Seninya Kerap Jadi Banner Unjuk Rasa, Begini Komentar Seniman Asal Malang
surabaya.tribunnews.com/delya oktovie
Seniman Malang Indra Setiawan (kanan) menjelaskan pada pengunjung arti lukisannya, dalam pameran bertema 'Love Is Everything' di ARTOTEL, Surabaya, Jumat (7/9/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA – “Cinta adalah memberi makna, kata Seno Gumira Ajidarma. Cinta juga bisa berarti memberi harga, walau menurut Goenawan Mohamad, cinta manusia bisa saja sia-sia…” begitu sepenggal tulisan Indra Setiawan dalam pamflet pamerannya.

Seniman yang tinggal di Malang tersebut memamerkan karya-karyanya yang bertema ‘Love Is Everything’ di Artspace ARTOTEL, Surabaya, mulai tanggal 7-28 September 2018.

“Pada tema ‘Love Is Everything’ ini, saya menyampaikan bahwa cinta itu luas, mulai dari cinta orang kepada banyak orang, cinta personal pada personal, saya juga menggambarkan orang mencintai makhluk hidup tanpa gendernya,” tuturnya dalam press conference, Jumat (7/9/2018).

Ia juga berusaha menggambarkan bagaimana ketika seseorang mencintai sesuatu yang tak berwujud, seperti mencintai mimpi, atau malah usahanya dalam meraih mimpi.

Pria kelahiran Mojokerto, 18 September 1991 itu mengaku memilih tema 'Love Is Everything’ karena cinta merupakan sesuatu yang global.

Satu di antaranya ia wujudkan lewat lukisan seorang perempuan yang tengah menusuk tanah menggunakan pedang, dengan tulisan di atasnya ‘I’m not living, I’m just killing time’.

“Ada juga lukisan ini (sambil menunjuk lukisan seorang perempuan tengah mendekap sebuah foto),dari captionnya orang mengira lukisan ini tentang hubungan Long Distance Relationship (LDR). Padahal saya ambil dari lirik Efek Rumah Kaca yang tentang orang hilang tahun 1998,” ungkapnya.

Melukis memang membawa kenikmatan tersendiri bagi Indra, tetapi pemilik akun Instagram @ndraset99 ini menyebut lebih bahagia, ketika karyanya berguna bagi orang lain.

Selama tiga tahun terakhir ini, Indra telah beberapa kali membuat karya untuk banner aksi protes masyarakat.

“Saya merasa kesenian yang baik adalah yang tidak jauh dari masyarakat. Bukan human interest, tetapi lebih ke arah sosial. Misalnya mural di perpustakaan yang dibangun warga kampung, maupun aksi demo warga yang digusur,” kata seniman yang tahun ini juga menggelar pameran di Qubicle Center, Jakarta itu.

Halaman
12
Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved