Citizen Reporter

Melacak Jejak Nenek Moyang

Hingga saat ini penduduk setempat masih sering menemukan fosil manusia purba. Mereka menemukannya tidak dengan sengaja saat menggarap sawah.

Melacak Jejak Nenek Moyang
ist

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMA/SMK Kabupaten Gresik melakukan lawatan sejarah di Museum Purbakala Sangiran di Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah (Sabtu, 1/9/2018). Kegiatan itu dilakukan untuk menambah wawasan tentang manusia dalam lintasan sejarah evolusi.

Wildan E Nugraha, guru Sejarah SMA NU 1 Gresik mengaku kerap mendapat pertanyaan dari siswanya tentang perubahan bentuk manusia dari Pithecanthropus Erectus menjadi Homo Sapiens.

“Ada missinglink, sehingga muncul perdebatan. Perubahan itu karena evolusi atau migrasi,” ungkapnya.

Di situs Sangiran itu dapat dilihat fosil-fosil dan artefak yang ditemukan. Beberapa sumber menyebutkan tidak kurang dari 120 fosil manusia purba pernah ditemukan di situs itu, yaitu fosil Meganthropus Paleojavanicus dan Homo Erectus.

“Fosil dan artefak ini menjadi sangat penting untuk mengetahui kehidupan pada masa prasejarah. Zaman itu tidak meninggalkan bukti tertulis,” imbuhnya

Situs Sangiran memiliki luas sekitar 56 km persegi, terbagi menjadi tiga klaster. Klaster-klaster itu terbentuk secara alamiah.

Sangiran mengalami tiga kali perubahan lingkungan. Pada 2,4 juta tahun yang lalu Sangiran berupa laut dalam. Akibat endapan gunung Lawu purba, 1,8 juta tahun yang lalu wilayah itu berubah menjadi rawa. Perubahan berikutnya, berupa grassbang yang terjadi pada 900 tahun yang lalu.

Sangiran mulai ramai dikunjungi peneliti mancanegara sejak 1931. Mereka melakukan ekskavasi dan berhasil menemukan fosil manusia purba. Pada saat yang sama penduduk setempat juga melakukan penggalian. Akibatnya, perdagangan fosil secara illegal tidak bisa dihindari karena belum ada regulasi yang mengatur.

Pada 1977 Pemerintah menetapkan Sangiran sebagai cagar budaya. Selanjutnya, pada 1996 UNESCO mengakui sebagai warisan budaya dunia sekaligus dijadikan sebagai Pusat Kajian Evolusi Manusia.

Akan tetapi, sarana dan prasarana pendukung di sekitar museum masih minim seperti lahan parkir dan homestay yang masih terbatas. Tentu itu menyulitkan bagi guru-guru yang ingin membawa siswa siswinya melakukan out door learning

Saat ini museum Sangiran mengoleksi tidak kurang dari 14.000 fosil dan artefak. Meskipun demikian, bukan berarti ekskavasi dihentikan. Hingga saat ini penduduk setempat masih sering menemukan fosil manusia purba. Mereka menemukannya tidak dengan sengaja saat menggarap sawah.

“Biasanya saat musin hujan para petani banyak yang menenukan fosil. Karena sudah ada undang-undangnya, mereka tidak lagi menjual, tetapi menyerahkannya pada pemerintah dengan imbalan pantas,” tutur Santoso, salah satu pemandu

Priyandono
Guru Sejarah di SMAN 1 Gresik
radenpriyandono@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help