Berita Tulungagung

Kisah Penerima Kalpataru dari Tulungagung, Sempat 'Berhadapan' dengan Penambang Batu Kapur

Kisah Penerima Kalpataru dari Tulungagung, Sempat 'Berhadapan' Langsung dengan Penambang Batu Kapur

Kisah Penerima Kalpataru dari Tulungagung, Sempat 'Berhadapan' dengan Penambang Batu Kapur
surya/david yohannes
Karsi Nerro Soethamrin dengan piala Kalpataru yang baru diterimanya dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Berkah hutan yang kembali lestari kini dinikmati para petani di empat desa ini.

Sawah-sawah mereka selalu terairi dengan baik berkait air dari Telaga Buret.

Bahkan di saat musim kemarau sekalipun, petani tidak pernah kekurangan air.

Padahal sawah-sawah mereka tidak terhubung dengan sistem irigasi modern yang dibangun pemerintah.

Sebuah pintu air kecil dibangun Dinas Pekerjaan Umum Pengairan tidak jauh dari Telaga Buret.

Pintu kanan untuk sawah Desa Gedangan, pintu tengah untuk Desa Gamping dan Sawo, dan pintu kiri untuk sawah Desa Ngentrong.

“Jadi memang sepenuhnya mengandalkan air dari Telaga Buret, hulu sistem irigasinya ada di Buret. Tidak ada saluran yang terhubung dengan sistem irigasi lain,” tutur Karsi.

Pada tahun 2015 saat masuk nominasi Kalpataru, luas lahan pertanian yang terairi seluas 400 hektar.

Tahun 2017 luas area sawah yang bisa terairi dari Telaga Buret mencapai 700 hektar.

Berkat pencapaian ini, Karsi dan kawan-kawan yang bergabung dalam Hampar diganjar penghargaan Kalpataru, Kamis (30/8/2018) di Bitung, Sulawesi Utara.

Penulis: David Yohanes
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved