Berita Tulungagung

Kisah Penerima Kalpataru dari Tulungagung, Sempat 'Berhadapan' dengan Penambang Batu Kapur

Kisah Penerima Kalpataru dari Tulungagung, Sempat 'Berhadapan' Langsung dengan Penambang Batu Kapur

Kisah Penerima Kalpataru dari Tulungagung, Sempat 'Berhadapan' dengan Penambang Batu Kapur
surya/david yohannes
Karsi Nerro Soethamrin dengan piala Kalpataru yang baru diterimanya dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Pohon besar yang tersisa bisa dihitung, hewan-hewan juga mulai punah karena diburu.

Melihat kehancuran itu, Karsi mulai bergerap pada tahun 1998 bersama dua temannya.

Mereka mulai menanam pohon secara massif di sekitar Telaga Buret.

“Yang penting menyadarkan masyarakat sekitar agar jangan membalak lagi. Pemilihan hutan mustahil terwujud tanpa kesadaran masyarakat,” tutur Karsi.

Karsi dan kawan-kawan juga harus berhadapan para penambang batu kapur.

Berkat usaha yang sungguh-sungguh dan tanpa lelah, tahun 1999 Perhutani mempercayakan pengelolaan hutan seluas 1,9 hektar di sekitar Telaga Buret kepada Karsi dan kawan-kawan.

Pada tahun 2000 luas area hutan yang dipercayakan menjadi 3 hektar. Warga pun mulai merasakan hasilnya.

Puncaknya tahun 2002, empat kepala desa di sekitar Telaga Buret membuat ikrar bersama untuk menjaga kelestariannya.

Desa-desa itu adalah Desa Sawo, Gedangan, Gamping dan Ngentrong, semuanya di Kecamatan Campurdarat.

“Siapa saja yang mengganggu kelestarian Telaga Buret akan mendapatkan sanksi,” tegasnya.

Halaman
123
Penulis: David Yohanes
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved