Single Focus

Aplikasi Dokternet untuk Masyarakat dan Bisa Diakses Gratis.

"Kami sempat mengembangkan aplikasi antrian ini di RSUD Sidoarjo, tetapi pakai brand mereka."

Aplikasi Dokternet untuk Masyarakat dan Bisa Diakses Gratis.
surya/ahmad zaimul haq
Webi Hapsara (tengah) CEO Dokternet saat menunjukkan aplikasi Dokternet dalam pameran the 1st international conference on health administration and policy (ICoHAP) di Hotel Wyndham Surabaya, Minggu (2/9/2018). Webi Hapsara (tengah) CEO Dokternet saat menunjukkan aplikasi Dokternet dalam pameran the 1st international conference on health administration and policy (ICoHAP) di Hotel Wyndham Surabaya, Minggu (2/9/2018). Attachments area 

SURYA.co.id |SURBAYA - Memulai startup saat ini bukan hal yang mustahil, apalagi pemerintah Kota Surabaya mewadahi para wirausaha muda ini dengan menyediakan Co Working space dan membentuk komunitas startup.

Hal ini juga yang membuat Webi Hapsara (31) tak ragu memulai start up meskipun masih bekerja di perusahaan swasta.

Webi mengungkapkan ia terbiasa berbagi ide dalam komunitas start up di Surabaya. Alumnus Sistem Informasi Intitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini memutuskan membuat Dokternet setelah berkonsultasi masalahnya pada sejumlah start up di komunitas.

Bersama lima kenalannya,ia kemudian membuat Dokternet. Sebuah sistem antrian dokter yang diterapkan oada website dan dikembangkan untuk IOS dab Android.

"Awalnya saya sering mengantarkan istri periksa kandungan di salah satu rumah sakit di Kendangsari. Ambil antrian jam 08.00 dilayani jam 14.00, tidak tahu kepastian kapan dilayani jadi harus nunggu terus,"urainya ketika ditemui dalam pameran the 1st international conference on health administration and policy (ICoHAP) di Hotel Wyndham Surabaya, Minggu (2/9/2018).

Karena banyak masyarakat yang mengalami hal serupa dengannya, iapun memutuskan membuat aplikasi Dokternet untuk masyarakat yang bisa diakses gratis.

"Saat ini masih platform website, akhir tahun ini akan dipasarkan ke android dan IOS. Kami masih mengumpulkan dokter untuk bergabung dengan aplikasi ini,"ujarnya.

Menurutnya dokter yang bergabung saat ini baru 120 dokter, ia berharap bisa menambah dokter atau klinik dan rumah sakit yang bergabung. Dengan demikian ia bisa mendapat masukan terhadap pemakaian aplikasi.

"Kami sempat mengembangkan aplikasi antrian ini di RSUD Sidoarjo, tetapi pakai brand mereka. Ke depan kami ingin menawarkan aplikasi kami saja secara gratis.Jadi bisa pakai aplikasi Dokternet yang diintegrasikan dengan sistem rumah sakit,"lanjutnya.

Meskipun masih dalam tahap penyempurnaan produk, menurutnya website dokternet sudah menjadi top search google untuk antrian dokter. Hingga beberapa pasien sudah terdaftar dalam aplikasi meskipun belum bisa menggunakannya karena dokter yang terbatas.

Adrigi Sanjaya, tim Dokternet mengungkapkan telah melakukan berbagai modifikasi dalam tampilan Dokternet agar disukai pengguna. Termasuk dalam penggunaan warna ungu sebagai identitas Dokternet.

"Sistemnya, dokter yang tergabung tidakperlu login, ketika ada janji akan dapat pasien merrka akan dapat sms. Dan ketika menjalankan praktek dia tinggal memencet tombol next pada aplikasi yang akan diteruskan ke pasiennya,"ungkap alumnus Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Untuk memperluas jaringan dan promosi,tim Dokternet ini giat mengikuti event pameran kesehatan. Sehingga memudahkan mereka bertemu praktisi atau pengambil kebijakan di instansi kesehatan.

"Beberapa dokter memang inginnya online, makanya kami ikut event untuk bisa mengenalkan produk," tambah Webi.

Webi mengungkapkan menjalani bisnis start up menurutnya sangat menarik. Pasalnya pekerjaan dikerjakan di rumahnya, ia mengubah bagian halaman belakang rumahnya menjadi ruang bincang santai bagi para pekerja Dokternet.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved