Berita Lifestyle

Generasi Ketiga Batik Oey Soe Tjoen Lebih Bebas Berekspresi, Terinspirasi Komik Naruto

Dari segi warna, batik generasi ketiga warnanya tampak lebih mencolok, dan bervariasi motifnya.

Generasi Ketiga Batik Oey Soe Tjoen Lebih Bebas Berekspresi, Terinspirasi Komik Naruto
surya/habibur rohman
Generasi ketiga Oey Soe Tjoen Widianti Widjaja (baju hitam) dan Mina Karina menunjukkan ciri khas batik Oey Soe Tjoen jelang pameran di Jayanata Beauty Plaza Surabaya, Rabu (29/8/2018). Pameran ini menampilkan tiga generasi batik dan akan diadakan lelang batik. 

Ia mengatakan, jika ingin meneruskan bisnis, harus memahami formula batik yang ditulis ayahnya.

Ibunya tak bisa membantu, karena selama ini ia berkutat di bidang quality control. Di buku itu, ayahnya hanya menuliskan rumus pewarna, untuk menghasilkan warna tertentu.

“Misalkan warna hijau. Hijau kan banyak. Saya tidak tahu hijau yang seperti apa hasilnya. Akhirnya yang menjadi percobaan ya kain pesanan orang. Saya bilang pada para pembatik, mewarnai seperti biasa seakan ada Papa di sini. Lama-lama saya tahu warna-warna yang dimaksud secara spesifik,” jelasnya.

Pada 2003, Widia menetap di rumah keluarga untuk membantu produksi. Akan tetapi, ia baru memulai mencantumkan nama Oey Soe Tjoen pada 2006.

“Bentuk tulisan tangan, itu yang membedakan antara batik generasi satu, dua, dan tiga. Pada generasi satu, yang menulis adalah nenek, generasi dua mama, generasi tiga saya. Tulisan ini dicantumkan saat batik mendekati proses pewarnaan,” ujarnya.

Khawatir Tergerus Waktu

Widia mengakui usaha batik tulis halus dilumat oleh waktu.

Para pembatik lama mulai hilang, sedangkan pembatik baru tak bisa memenuhi standar Oey Soe Tjoen. Kini, Widia bergulat hanya ditemani 12 pembatik.

“Kami kehabisan tenaga kerja. Pada generasi pertama, pembatik kami 150 orang. Generasi kedua, 60 orang, dan sekarang tinggal 12 orang,” ucapnya sambil tersenyum pahit.

Mengajak generasi muda merupakan hal yang sulit baginya, karena tidak ada yang bisa menyesuaikan standarnya.

Selain itu, generasi muda tidak sabaran, sedangkan detail merupakan kualitas yang dijunjung tinggi.

Ia meyakini, mau tak mau batik tulis halus akan punah, tergerus zaman sekaligus perubahan tren yang lebih murah, mudah, dan lincah, yakni batik print.

Meski begitu, Widia bertekad batiknya bertahan hingga 2025, tepat 100 tahun usia Oey Soe Tjoen.

“Saya punya misi 2025, saya sampai di usia 100 tahun,” harapnya.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help