Berita Gresik

Penumpang Keluhkan Kondisi Terminal Bunder Tak Ada Atap Peneduh, Berharap Pemkab Gresik Lakukan ini

Penumpang dan sopir angkutan kota (angkot) di terminal Bunder Gresik mengeluhkan kondisi terminal yang panas.

Penumpang Keluhkan Kondisi Terminal Bunder Tak Ada Atap Peneduh, Berharap Pemkab Gresik Lakukan ini
surya/sugiyono
PANAS - Angkutan umum dan penumpang rela berpanas-panasan akibat terminal angkot tidak ada kanopi, Rabu (29/8/2018). 

SURYA.co.id | GRESIK - Penumpang dan sopir angkutan kota (angkot) di terminal Bunder Gresik mengeluhkan kondisi terminal yang panas karena tidak ada tempat berteduh. Saat panas dan hujan para sopir dan calon penumpang terkan dampaknya.

Keinginan penumpang dan sopir itu ketika para penumpang yang setiap hari naik angkot merasakan kepanasan dan kehujanan ketika harus pindah angkot saat di terminal Bunder.

"Alangkah bagusnya kalau ada bangunan kanopi untuk berteduh, biar tidak panas kepanasan dan saat hujan kehujanan," kata Alisa Maslichah, penumpang angkot yang akan pindah ke terminal bagian bus, Rabu (29/8/2018).

Selain itu, fungsi kanopi tersebut bisa digunakan untuk antrian angkot agar terlihat rapi. Dan tidak parkir sembarangan di dalam dan luar terminal. Akibat tidak ada bangunan kanopi, angkutan umum sering parkir di bawah pohon dan parkir di depan terminal.

Para sopir angkot sendiri juga menginginkan adannya bangunan kanopi di tengah-tengah terminal umum khusus angkot. "Bagus kalau ada bangunan kanopi di tengah sana. Bisa untuk berteduh penumpang dan angkot," kata Sameli (65), sopir angkot yang setiap hari mangkal di terminal Bunder.

Selama ini, para sopir memilih memarkirkan mobilnya di bawah pohon yang rindang. Sebab, tidak ada tempat berteduh lainnya. "Tempat itu yang nyaman. Tapi tetap kepanasan," kata Mujiono (54), sopir angkot warga Desa Cerme Lor Kecamatan Cerme.

Selama bertahun-tahun, para penumpang dan sopir angkot di terminal angkutan pedesaan itu sering kepanasan dan kehujanan. "Ya seperti ini bertahun-tahun. Kepanasan dan kehujanan bingung cari tempat berteduh," imbuhnya.

Selain kondisi yang panas, terminal yang terbuka itu sering digunakan kendaraan bermotor dan mobil sebagai jalan pintas yang akan ke arah Lamongan, sebab ditingkungan jalan lingkar terminal Bunder sering macet saat kendaraan besar berbelok.

Kendaraan umum sering lewat karena tidak ada petugas yang jaga di pintu masuk dan keluar terminal angkutan umum. Sehingga keselamatan penumpang menjadi terganggu sebab kendaraan melaju dengan kencang.

Belum lagi polusi udara dari kendaraan umum yang melintas di dalam terminal angkutan kota itu juga sangat mengganggu masyarakat. "Iya seperti ini kondisinya sejak dulu," katanya.

Terkendala Status :
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik Nanang Setiawan mengatakan ingin membangun terminal angkutan umum dengan adanya kanopi. Namun, saat ini masih terbentur dengan status terminal yang akan dikelola oleh Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur.

"Status terminal masih pro dan kontra pengelolaannya. Sebab pemerintah Provinsi menginginkan untuk mengelola terminal bus beserta terminal angkot," kata Nanang.

Dari status yang belum jelas itu, Dishub Kabupaten Gresik belum bisa mengalokasikan anggaran untuk membangun kanopi di tengah terminal angkot dan menata warung-warung yang ada di sekitar terminal.

"Kita belum bisa menganggarkan perbaikan, sebab pemerintah provinsi masih menginginkan pengelolaan terminal angkot beserta terminal bus. Kalau statusnya sudah jelas kita berani menganggarkan," imbuhnya.

Nanang juga prihatin dengan kondisi terminal angkot yang tidak ada kanopi untuk angkot dan penumpang. "Iya secara umum ya seharusnya ada kanopi untuk angkutan umum dan penumpang, sehingga mereka bisa nyaman naik angkot sehingga bisa mengurangi angka kecelakaan lalu lintas," katanya.

Penulis: Sugiyono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved