Road to Election

La Nyalla Minta Masyarakat Tak Gunakan Istilah Cebong, Kampret, dan Idiot Jelang Pemilu

Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Jatim, La Nyalla Mahmud Mattalitti meminta istilah Cebong, Kampret, dan Idiot tak dipakai lagi

La Nyalla Minta Masyarakat Tak Gunakan Istilah Cebong, Kampret, dan Idiot Jelang Pemilu
surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengimbau semua pihak untuk menahan diri jelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Nyalla berharap masing-masing elemen masyarakat untuk tidak saling menjelekkan.

Menurutnya, ungkapan-ungkapan bertendensi negatif tidak perlu dilontarkan karena hanya akan membuat selisih paham memuncak.

“Harganya terlalu mahal kalau Pilpres ini jadi ajang bullying massal. Saling mengatai satu sama lain. Cukup sudah, jangan lagi ada kata idiot, kampret, atau cebong terlontar di antara sesama anak bangsa,” ujar La Nyalla, Rabu (29/8/2018).

Baca: Jumlah Daftar Pemilih Tetap di Jatim Untuk Pemilu Serentak 2019 Tembus 30,5 Juta

Seperti diketahui, “kampret” adalah julukan warganet (netizen) yang seringkali menjadi julukan bagi kubu non-Jokowi. Sedangkan “cebong” adalah sebutan yang disematkan untuk pendukung Jokowi.

Adapun kata “idiot” menjadi viral setelah muncul gesekan dalam deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya yang akhirnya batal digelar.

Ia menyebut dampak negatif yang begitu besar bagi anak-anak dengan banyaknya istilah negatif tersebut.

"Kemarin anak saya yang masih sekolah juga tanya, ‘Pa, ini kenapa sih semua saling ejek?’ Wah, bahaya juga dampak serang-serangan di media sosial ini ke anak-anak kita semua,” papar La Nyalla yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur.

Baca: Penyebab Ahmad Dhani Dicari Ratusan Orang Cinta NKRI saat Deklarasi #2019 Ganti Presiden di Surabaya

“Coba bayangkan kalau anak-anak kita berubah jadi generasi muda yang hobi bullying, suka melontarkan kata-kata kasar. Apa kita sebagai orang tua rela?” imbuh La Nyalla.

Menurut La Nyalla, saling melontarkan ejekan juga tidak sesuai ajaran agama, dan tak sesuai adat ketimuran yang dipegang erat bangsa Indonesia.

“Kita ini manusia kan tidak tahu apa-apa. Belum tentu orang yang kita caci, itu lebih jelek dari kita. Bisa saja lebih baik di mata Allah SWT,” kata La Nyalla.

La Nyalla menambahkan, kita harus mengelola perbedaan pendapat di Pilpres dengan dewasa. “Jadikan perbedaan pendapat menjadi kekuatan untuk membangun bangsa, bukan melemahkan bangsa,” ujarnya.

“Silakan berdebat dan berbeda pendapat sampai jungkir balik, tapi jangan melontarkan ungkapan yang kasar. Toh kita ini sebenarnya saudara. Saran saya ini berlaku sama untuk pendukung Jokowi, Prabowo, dan siapa pun,” pungkas calon anggota DPD RI tersebut. 

Baca: Perang Dingin Ahmad Dhani Vs Wanda Hamidah Kian Panas- Klaim Dhani Gusdurian Diragukan Wanda

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help