Citizen Reporter

Mau Mengkritik Negara, lewat Teater Saja

Tidak semua orang harus main teater. Ada yang menjadi guru, pemimpin, politikus, ahli krtitik. Semua bisa dipelajari lewat teater, kalau mau.

Mau Mengkritik Negara, lewat Teater Saja

Sakit dan kondisi badan yang tidak fit tidak menjadi penghalang bagi seorang Putu Wijaya untuk terus menghasilkan karya. Pentas berlangsung di hadapan ratusan mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), Kamis malam (24/8/2018).

Usai naskah garapannya dipentaskan apik, didampingi kru, sastrawan senior itu mencul ke tengah panggung dengan bantuan kursi roda. Ia masih bersemangat melayani tanda tangan, foto bersama, hingga permintaan wawancara.

Malam itu, bersama Teater Mandiri, Putu Wijaya mementaskan naskah JPRUTT. Sejak ditulis akhir 2017 lalu, JPRUTT telah dipentaskan empat kali. Selama itu pula, Putu Wijaya tak absen memantau.

Pementasan berlangsung di Bentara Budaya, Taman Ismail Marzuki, Art Centre di Bali, dan di Gedung Balai Budaya Surabaya atas kerja sama dengan FIB Unair.

“Saya senang main di Unair karena apresiasinya tinggi. Saya senang sekali bermain di sini,” kata Putu Wijaya tentang pentas keempat itu.

Penonton diajak untuk merenungkan kembali kemerdekaan bangsa Indonesia. Bagaimana mestinya bangsa Indonesia menghadapi masa depan, serta mengapresiasi cara orang Barat melihat Indonesia. Bukan memandang Barat sebagai musuh, bukan pula memandang Barat sebagai dewa.

“Lebih baik kita berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan dengan mereka,” papar laki-laki 74 tahun itu dalam pentas untuk memperingati HUT ke-47 Teater Mandiri dan ulang tahun ke-30 Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Unair.

Putu Wijaya pun tak begitu resah ketika tidak banyak generasi milenial tertarik dengan teater yang sarat akan pesan moral. Zaman telah berubah.

“Tidak semua orang harus main teater. Ada yang menjadi guru, pemimpin, politikus, ahli krtitik. Semua bisa dipelajari lewat teater, kalau mereka mau,” terang penulis drama, cerpen, esai, novel, skenario film, hingga sinetron itu.

Meski begitu, lanjut Putu, teater punya tanggung jawab untuk merangkul anak muda untuk hal-hal yang baik. “Kalau dirangkul hal buruk, kita harus merebut mereka,” tegas Putu.

Teater mendidik masyarakat, juga anak-anak muda. Teater bukan hanya hiburan, tetapi perenungan yang memiliki akses ke segala disiplin ilmu seperti agama, filsafat, sosial, dan politik. Teater juga memiliki harapan untuk dapat mendidik karakter bangsa.

Melalui pementasan ini, Diah Ariani Arimbi, Dekan FIB Unair, ingin mengenalkan teater kepada mahasiaswa baru. Itu sebagai pengenalan mereka terhadap karya sastra Indonesia .

“Ini untuk mengenalkan khasanah ilmu budaya melalui drama,” kata Diah.

JPRUTT dipentaskan dengan apik oleh aktor Niniek L Karim, Bambang Ismantoro, Jose Rizal Manua, Ulil Elnama, Rukoyah, Ari Sumitro, Penny Muhaji, dan Lela dengan pimpinan produksi Dewi Pramunawati.

Binti Q Masruroh
Alumnus Sastra Indonesia FIB Unair
binti.quryatul@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved