Citizen Reporter

Potong Lebih dari Seribu Kambing, Pisaunya Khusus dari Singapura

Ada 400 petugas penyembelihan untuk menangani 1.530 kambing dan 107 sapi sumbangan Muhibbah Singapura.

Potong Lebih dari Seribu Kambing, Pisaunya Khusus dari Singapura
ist

Seribuan jemaah memadati lapangan Pondok Pesantren Al-Ishlah untuk melaksanakan salat Idul Adha. Sapi dan kambing yang akan dikurbankan pun telah siap, di samping kiri kanan dalam kandang sementara.

Di sekitar lapangan banyak bendera merah putih berkibar. Di antara bendera itu ada bendera dengan lambang bulan sabit dan lima bintang. Ya, itu menunjukkan bendera Indonesia dan Singapura.

Dikibarkannya bendera dua negara itu bukan tanpa sebab. Itu menunjukkan adanya hubungan dua negara. Ada kerja sama antara Muslim Singapura (Muhibbah Singapura) dan Indonesia yang dalam hal ini adalah Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso dalam melaksanakan penyembelihan hewan kurban.

Muhibbah Singapura diketuai H Noordin. Tahun ini sekitar 20 orang ikut dalam rombongan.

Suhaimi, salah satu ustaz rombongan dari Muhibbah Singapura mengatakan, kerja sama Muhibbah Singapura dan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso sudah kali ke-21.

“Banyak kemajuan penyembelihan di Al-Ishlah. Para petugas dilatih dan ditingkatkan kemahirannya sehingga pelaksanaan penyembelihan, pengulitan, pencacahan, dan seterusnya dapat dilakukan dengan cepat dan lancar,” katanya, Selasa, (21/8/2018).

Muhibbah Singapura ingin berbagi bahagia kepada masyarakat Bondowoso dengan berkurban di Indonesia. Mereka juga menjadi donatur di beberapa daerah lain di Indonesia.

Tahun ini Muhibbah Singapura menyumbang 1.530 kambing dan 107 sapi. Jumlah itu lebih banyak dari sumbangan tahun lalu. Tidak hanya itu, Muhibbah Singapura juga membawa peralatan pemotongan dari Singapura.

“Kami membawakan pisau made in Jerman. Pisau ini khusus untuk memotong,” kata Otzman bin Husin yang juga anggota rombongan Muhibbah Singapura.

Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso menyiapkan 400 petugas penyembelihan terdiri atas jemaah, wali santri, dan asatidz. Penyembelihan dimulai pukul 08.00 dan selesai pukul 18.00.

KH Muhammad Ma’shum, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso menambahkan, hari raya saat ini harus berkurban perasaan.

“Tidak boleh marah kalau dicaci, dan tidak boleh sombong merasa paling benar. Ulama Indonesia ijtihad hari Rabu hari raya, sedangkan saya mengambil gampangnya dengan mengikuti Mekkah. Kita harus saling menghormati,” katanya.

Muhammad Rasyid Ridho
Pegiat Literasi di Rumah Buku Taman Cahaya
Pengajar Kelas Menulis di Bondowoso
penulispembelajar@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved