Berita Surabaya

Republik Ludruk Surabaya, Hadir untuk Forum Anak Muda Pecinta Ludruk

Esthi Susanti Hudiono membangun organisasi modern, serta ludruk berjaringan, yakni Republik Ludruk Surabaya (RLS).

Republik Ludruk Surabaya, Hadir untuk Forum Anak Muda Pecinta Ludruk
surya/delya octovie
Esti Susanti Hudiono (kaus orenge) foto bersama usai peluncuran Republik Ludruk Surabaya (RLS) di Kantor Harian Surya, Kamis (23/8/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Ludruk tak lagi kehilangan penonton. Cita-cita tersebut mustahil bila diungkapkan beberapa tahun lalu, hingga komunitas ludruk Luntas, Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio mengembalikan angan tersebut lewat pementasan sukses mereka.

Beberapa kali, Luntas berhasil mengadakan pementasan ramai penonton setidaknya mengisi 120 kursi pada hari Sabtu, dan pementasan dilakukan tanpa campur tangan pemerintah.

“Pagelaran ludruk bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, itu penontonnya selalu sedikit. Lalu kami coba menggencarkan promosi lewat media sosial, ternyata kami mampu menghadirkan lebih dari 100 penonton,"jelas Koordinator Luntas, Robert Bayonet.

Dia awalnya pesimis 100 itu hanya satu-dua kali, tetapi sudah tiga tahun berjalan, setiap Sabtu penonton Luntas mencapai 120 orang.

Keberhasilan Luntas membawa harapan pada performer ludruk Surabaya bahwa akhirnya mereka mengetahui cara menarik masyarakat utamanya anak muda.

Posibilitas ini membawa Ketua serta Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya Esthi Susanti Hudiono membangun organisasi modern, serta ludruk berjaringan, yakni Republik Ludruk Surabaya (RLS).

Peluncuran RLS dilakukan di kantor Harian Surya, Rungkut Industri, Surabaya, Kamis (23/8/2018).

“Fokus kami ke anak muda, dibantu dengan sekolah-sekolah seperti SMK Dr. Soetomo, Kampung Parikan Gadukan RW IV, kemudian anak-anak muda Robert, Ponco, dan Ipul. Tujuannya agar ludruk bisa hidup dengan bon-bonan pemain, jadi bisa saling mendukung,” tutur Esthi.

Perempuan yang sempat menjadi jurnalis tersebut ingin RLS menjadi forum pecinta ludruk anak muda.

Namun, pemula-pemula ludruk ini nantinya tak sekadar diajarkan bermain ludruk, tetapi juga dididik dibidang seni, sosial, dan entrepreneur.

Halaman
123
Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved