Jelang Pilpres 2019

Menteri Luhut Yakin Kiai Ma'ruf Amin Tak Turunkan Elektabilitas Jokowi pada Generasi Milenial

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan meyakini cawapres Ma'ruf Amin tidak akan menurunkan elektabilitas Jokowi.

Menteri Luhut Yakin Kiai Ma'ruf Amin Tak Turunkan Elektabilitas Jokowi pada Generasi Milenial
surya/fatimatuz zahro
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan meyakini cawapres Ma'ruf Amin yang dipilih Jokowi tidak akan menurunkan elektabilitas dari kalangan milenial dalam Pilpres 2019.

Menurutnya, banyak success story atau cerita kesuksesan semasa perjalanan pemerintahan Jokowi selama empat tahun terakhir yang tak lepas dari anak muda yang layak untuk dipertimbangkan oleh kaum milenial.

Luhut meyakini bahwa tokoh utama Jokowi dalam pilpres ini tetap akan dominan dan tidak akan membuat penurunan elektabilitas atas terpilihnya Kyai Ma'ruf Amin sebagai cawapres.

"Banyak program Pak Jokowi itu yang dikerjakan oleh anak muda, nggak cuman tokoh senior seperti saya. Misalnya yang mengerjakan LRT itu juga anak muda usia 23 sampai 35 tahun yang bekerja dalam tim," ucap Luhut saat hadir dalam acara deklarasi dukungan untuk Jokowi - Ma'ruf Amin oleh Cakra 19 Jatim, Kamis (23/8/2018).

Menurut Luhut hal itu belum pernah terjadi di pemerintahan sebelumnya. Dimana hal itu menjadi trademark dari Jokowi selama menjabat sebagai presiden.

"Beliau merangkul anak muda. Kalaupun ada Pak Ma'ruf Amin saya kira sah sah saja, Pak Mahathir Muhammad itu sudah 80 tahun keatas usianya," ucap Luhut.

Selain itu Luhut meyakini bahwa pilihan Kyai Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi tidak akan menurunkan elektabilitas saat Pilpres 2019 mendatang.

Dia mencontohkan dalam hasil survei Lembaga Survei Indonesia atau LSI terbukti elektabilitas Jokowi masih tinggi saat ini.

Lebih lanjut meski ke depan persaingan Pilpres akan ketat, dia mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk tidak menjadikan momen ini sebagai pemicu pecahan.

"Beda pendapat nggak masalah. Seperti tadi saya suka kopi tapi kamu suka teh kan nggak masalah," urainya.

Menurutnya lebih baik kedepan persaingan Pilpres lebih diisi dengan persaingan program. Terutama bagaimana menjadikan Indonesia lebih baik.

Termasuk bagaimana menyediakan infrastruktur lebih baik, penggunaan dana desa, mengurangi kemiskinan dan mengurangi stunting.

"Itu saja lah yang diturunkan, jangan bicara lagi tentang perbedaan, masalah identitas, itu yang justru memicu perselisihan dan perpecahan," pungkas Luhut.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved