Berita Mojokerto

Pemkot Mojokerto Bangun Rumah untuk ASN Diiri Tunawisma, Pemkot Diminta Perhatikan Rakyat Kecil

Salah seorang penghuni yang bermukim di atas area pemakaman China Indah dwi ningsih (36), mengaku, telah tinggal selama 25 tahun.

Pemkot Mojokerto Bangun Rumah untuk ASN Diiri Tunawisma, Pemkot Diminta Perhatikan Rakyat Kecil
SURYAOnline/Danendra kusumawardana
Pemukiman para tunawisma di areal makam China. 

Surya.co.id l MOJOKERTO - Di tengah polemik banyaknya warga Mojokerto yang masih menyandang status tunawisma (tak memiliki rumah), baru-baru ini Pemerintah Kota Mojokerto meresmikan program hunian yang diperuntukkan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Para tunawisma mau tak mau menempati lahan hingga mendirikan bangunan di atas tanah yang bukan miliknya. Salah satu perkampungan tunawisma dapat dijumpai di lingkungan Kedundung dan Balongrawe Baru Kelurahan Kedundung Kecamatan Magersari. Mereka membangun sebuah rumah permanen, semi permanen, hingga bilik bambu di atas makam Cina.

Saat Surya.co.id menengok pemukiman tersebut, sebagian rumah dari bilik bambu terlihat tak layak huni. Sebab, kondisinya telah rapuh dan tinggal menunggu waktu untuk roboh.

Kondisi ironi seperti ini, sudah berlangsung puluhan tahun. Kawasan ini, dihuni oleh 1.500 jiwa dari 500 kepala keluarga. Status tanah tersebut milik negara yang disewa oleh yayasan pemakaman.

Salah seorang penghuni yang bermukim di atas area pemakaman China Indah dwi ningsih (36), mengaku, telah tinggal selama 25 tahun. Indah acap kali merasa was-was, lantaran ia sadar bahwa pemerintah setiap saat bisa menggusur rumahnya.

"Rasa was-was tergusur itu setiap hari muncul. Apalagi 3 tahun terakhir ini santer beredar isu penggusuran karena akan dibangun penjara di sekitar area makam," katanya saat diwawancarai, Selasa (21/8/2018).

Indah pun berharap, pemerintah memberi kepastian hukum terhadap tanah yang ia dan warga tinggali di area makam. Karena, para warga tak tahu harus tinggal dimana ketika penggusuran dilakukan.

"Pemerintah sudah seharusnya mendengarkan jeritan rakyat kecil. Semoga tanah ini disahkan dan diresmikan menjadi hak milik kami," harapnya.

Di sisi lain, sebenarnya Pemerintah Kota Mojokerto dan Kementerian PUPR tak tinggal diam. Mereka telah mengambil langkah untuk menuntaskan masalah tunawisma di Kota Mojokerto. Langkah itu dapat dilihat melalui pembangunan Rusunawa di daerah Prajuritkulon.

Sayangnya, rumah susun lantai 4 itu hanya sanggup menampung 55 KK. Hanya segelintir warga Kedundung dan Balongrawe Baru yang mendapat tawaran menempati Rusunawa. Seperti halnya Indah, ia tak dapat tawaran dari pihak terkait untuk pindah hunian ke rusunawa.

Halaman
12
Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help