Berita Tuban

PNS, TNI, Polri dan Pelajar di Tuban Diimbau Tak Gunakan Ojek Online. Apa Sebabnya?

PNS, TNI, Polri, dan pelajar di Tuban diimbau tak menggunakan jasa ojek online, tetapi naik angkot. Ini sebabnya

PNS, TNI, Polri dan Pelajar di Tuban Diimbau Tak Gunakan Ojek Online. Apa Sebabnya?
surabaya.tribunnews.com/m sudarsono
Angkot di Tuban sedang menanti penumpang. Para pengemudi angkot mengeluh, sejak hadirnya ojek online, jumlah penumpang mereka berkurang drastis. 

SURYA.co.id | TUBAN - Kehadiran ojek online atau ojol di Tuban dikeluhkan oleh para pengemudi angkutan kota. 

Senin, 20 Agustus 2018, dialog yang melibatkan DPRD Kabupaten Tuban, Dinas Perhubungan, dan DPC Organda setempat dilakukan untuk membahas hal tersebut. 

Hasilnya, paguyuban angkot mengimbau agar PNS, TNI, Polri dan pelajar tidak menggunakan Ojol.

"Kami meminta pemerintah kabupaten memberikan imbauan, agar PNS, TNI, Polri maupun pelajar tak menggunakan jasa Ojol," kata Sekretaris Angkutan Kota, Ikhsan Hadi ditemui usai hearing.

Rapat yang berlangsung tertutup itu juga direspon positif oleh Dinas Perhubungan dan juga DPRD.

Kadishub Kabupaten Tuban, Muji Slamet menjelaskan, hasil kesepakatan hearing tentu akan ditindaklanjuti.

Permasalahan yang selama ini terjadi antara angkutan konvensional dengan online sudah selesai.

"Kami akan segera menindaklanjuti hasilnya, pelajar yang belum mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk tidak membawa kendaraan sendiri," ujar mantan Camat Soko tersebut.

Baca: Kisahnya Viral, Begini Perjuangan Siswa SMA Nikahi Guru Fisikanya, Berusaha Keras Sampai 5 Tahun

Baca: 7 Fakta Tentang Penyakit Migrain, Ternyata Bisa Memicu Kebutaan hingga Kelumpuhan

Ketua DPRD Kabupaten Tuban, Miyadi menegaskan, pihaknya akan melanjutkan hasil rapat ini dengan cara menghimbau para pelajar yang belum boleh mengendarai kendaraan, agar menggunakan angkutan atau diantar orang tuanya.

"Akan kita tindaklanjuti dengan berkordinasi dengan lembaga pendidikan," pungkasnya.

Sekedar diketahui, hearing yang dilakukan merupakan bentuk tindak lanjut dari aksi angkutan kota Lyn A, B dan C, Kamis (9/8/2018). Para sopir angkutan mulai resah atas keberadaan Ojol yang dianggap berdampak pada penghasilan sopir angkot.

Sedangkan untuk Bajaj Angling, para sopir meminta agar kendaraan roda tiga tersebut tidak mengambil penumpang dari trayek angkot.

Penulis: M. Sudarsono
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help