Pilpres 2019

La Nyalla Bicara Soal Pilpres 2019: Saya Pasti Memilih, Tidak Golput

La Nyalla Mahmud Mattalitti menolak golput dan akan menyalurkan hak politiknya untuk memilih calon presiden di Pilpres 2019 nanti

La Nyalla Bicara Soal Pilpres 2019: Saya Pasti Memilih, Tidak Golput
surya/bobby constantine koloway
Calon Anggota DPR RI dari Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti. 

SURYA.co.id | SURABAYA - La Nyalla Mahmud Mattalitti menolak golput. Dirinya mengaku pasti akan menyalurkan hak politiknya untuk memilih calon presiden di Pilpres 2019 nanti.

Tokoh yang maju menjadi calon anggota DPR RI dari Jatim ini mengaku sudah punya pilihan.

Di antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo, Siapa capres pilihan La Nyalla?

Berikut petikan wawancara Surya.co.id (Tribunnews Network) dengan pengusaha sekaligus aktivis organisasi asal Jatim ini, Senin (20/8/2018) di Surabaya.

Tahun 2014 Anda secara terbuka mendukung pasangan Prabowo-Hatta (Prabowo Subianto dan Hatta Rajassa). Apa yang melatari pilihan Anda saat itu?
Saya tidak pernah melihat pada figur. Secara rasional saya melihat program yang ditawarkan. Saya juga melihat tren pilihan masyarakat melalui sejumlah survey. Itu secara akal. Tetapi secara batin, saya juga meminta petunjuk Allah melalui istikharah. Setelah memutuskan ya sudah, diperjuangkan dan harus tawakal apapun hasilnya. Karena itu, bagi saya tidak ada masalah, apakah calon yang saya dukung kemudian kalah atau menang. Biasa saja. Karena bagi saya, semua yang terjadi di muka bumi ini sudah tertulis. Manusia hanya ikhtiar.

Apakah artinya di pilpres tahun 2019 nanti Anda juga melakukan hal yang sama sebelum menentukan pilihan?
Iya, sama.

Tetapi di awal tahun 2018 ini, Anda pernah menyatakan di media, bahwa Anda tidak akan mendukung Prabowo lagi. Apakah artinya kalau pasangan cuma dua, Anda mendukung Jokowi?
Saya tidak pernah mengatakan saya tidak akan mendukung Prabowo. Saat itu saya mengatakan kalau Prabowo, kemungkinan besar kalah melawan Jokowi di Pilpres 2019. Saya mengatakan itu ada dasarnya. Pertama, di awal tahun 2018, elektabilitas Prabowo di bawah Jokowi. Artinya tren masyarakat yang didapat melalui survey saat itu cenderung ingin memberi kesempatan kepada Jokowi untuk melanjutkan. Kedua, Jokowi incumbent.

Apakah artinya kans Anda lebih besar untuk memilih Jokowi?
Saya akan menggunakan pendekatan tadi untuk menentukan. Pertimbangan akal dan batin. Saya tentu akan melihat program kedua pasangan terlebih dahulu. Lalu melihat tren sikap masyarakat melalui sejumlah survey. Baru secara batin, saya meminta petunjuk Allah SWT.

Apakah artinya masih belum tentu juga Jokowi?
Lihat nanti. Kan masih 2019.

Tapi Anda masih bersitegang dengan Prabowo dalam konteks pra Pilgub Jatim. Sampai sekarang?
Terus terang saat itu saya kecewa karena diperlakukan berbeda dengan calon-calon yang lain di daerah lain. Saya diminta untuk mencari partai koalisi sendiri dan hanya diberi waktu 10 hari di menit akhir menjelang batas waktu pendaftaran ke KPUD. Lalu saya juga diminta menyiapkan dana untuk pemenangan dan saksi. Padahal rekomendasi partai belum saya pegang. Sebenarnya saya menerima dan mau menjalankan tugas dari Partai Gerindra untuk mencari sendiri partai koalisi adalah hanya fatsun etika politik saya saja. Jujur, sebenarnya upaya mencari partai koalisi seharusnya dilakukan partai politik. Bukan oleh orang yang bahkan belum menerima rekomendasi resmi dari Partai Gerindra. Saat itu beberapa kolega saya meminta saya untuk menolak surat tugas itu, dan melupakan jalur partai, untuk kemudian menempuh jalur independen. Tetapi saya masih berprasangka baik dan sebagai etika kader, saya laksanakan. Tetapi akhirnya benar dugaan sejumlah kolega saya, bahwa surat tugas itu memang ibarat tugas untuk mendirikan candi dalam semalam.

Halaman
12
Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help