Ekonomi Bisnis

Konsumsi Energi Indonesia Naik 7 Persen Per Tahun, Ini yang Dilakukan SKK Migas

SKK Migas menyebutkan bila total pencapaian lifting migas Indonesia semester I 2018 mencapai 1 juta 923 ribu BOEPD

Konsumsi Energi Indonesia Naik 7 Persen Per Tahun, Ini yang Dilakukan SKK Migas
istimewa
Para peserta upacara dari HCML dan jajaran SKK Migas Jabanusa saat berada di kapal Karapan Armada Sterling III ditengah laut Selat Madura. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Migas'>SKK Migas menyebutkan bila total pencapaian lifting migas Indonesia semester I  2018 mencapai 1 juta 923 ribu BOEPD atau 96 persen dari target APBN 2018. Ini memberikan catatan bila peranan sektor hulu migas saat ini sangat vital dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Capaian tersebut lebih besar dari capaian semester satu tahun lalu yang baru mencapai 92 persen dari target APBN. Terlebih lagi mengingat pertumbuhan konsumsi energi Indonesia mencapai 7 persen per tahun dibandingkan konsumsi energi dunia yang hanya sebesar 2,6 persen per tahun.

"Ketersediaan energi nasional dari migas sangat tergantung dari kemampuan memproduksikan migas itu sendiri. Pada semester pertama tahun ini, rata-rata lifting minyak bumi telah mencapai 771 ribu barel per hari (bopd). Sedang untuk gas bumi, lifting mencapai 1 juta 152 ribu setara barel minyak per hari (boepd)," jelas Ali Mahsyar, Kepala Perwakilan Migas'>SKK Migas Jabanusa, usai mengikuti upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke 73 di selat Madura, wilayah Kabupaten Sampang, bersama Husky-CNOOC Madura Ltd. (HCML), Jumat (17/8/2018) lalu.

Sementara itu, terkait tempat upacara, merupakan bagian dari lapangan Madura BD, Blok selat Madura yang merupakan lapangan eksplorasi migas dengan cadangan minyak yang cukup besar. Ditemukan pada 1987, namun gas dan kondensat baru bisa dihasilkan pada Juli 2017.

Butuh waktu 30 tahun untuk menghasilkan gas. Selain FPSO, lapangan BD dilengkapi anjungan (wellhead platform) yang memproduksi gas dari 4 sumur.

Hasil produksi itu kemudian diolah di FPSO Karapan Armada Sterling III dan diteruskan ke fasilitas Gas Metering Station (GMS) yang terletak di Desa Semare, Pasuruan.

Gas produksi dari empat sumur gas di anjungan BD selain mengandung hidrokarbon juga mengandung H2S dan CO2. Gas H2S sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Karena itu dibutuhkan peralatan keselamatan khusus untuk H2S. Selain itu perlukan peralatan dan material khusus yang tahan terhadap korosi.

Pengolahan gas di FPSO untuk memisahkan gas dengan cairan, mengurangi kandungan H2S, CO2, Air dan Liquid Heavy Hydrocarbon.

Di Indonesia FPSO Kapal Karapan Armada Sterling III menjadi satu-satunya fasilitas lepas pantai yang memiliki kemampuan mengolah gas dan kondensat sekaligus.

Gas yang sudah diproses dari FPSO dan dialirkanke GMS di Desa Semare, Pasuruan itu baru dikirim ke pembeli gas yaitu PGN, PKG (Petrokimia Gresik) dan IAE (Inti Alasindo Energy) dimana gas tersebut dimanfaatkan untuk industri, pabrik pupuk dan pembangkit listrik.

Kapasitas produksi FPSO didesign untuk bisa memproduksi sales gas maksimal 110 MMSCFD. Saat ini rata-rata produksi sales gas 100 – 110 MMSCFD sedangkan rata-rata produksi kondensat sekitar 7000 - 8000 BCPD melebihi estimasi awal sekitar 6000 BCPD.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help