Berita Mojokerto

Biaya Kemah Unik di Dusun Brongkol, Mojokerto Murah, Satu Desain Rumah Gadang Cuma 200 Ribu

Salah satu warga yang juga menjadi peserta lomba rumah kemah masal unik bernama Alda Oktaferika mengungkapkan

Biaya Kemah Unik di Dusun Brongkol, Mojokerto Murah, Satu Desain Rumah Gadang Cuma 200 Ribu
SURYA.co.id/Danendra Kusumawardana
Alda Oktaferika (kiri) memerankan orang desa dan Mafiani memerankan orang kota yang memberi kabar kemerdekaan Republik Indonesia di dalam cerita drama buatan keluarga Alda, Minggu (19/8). 

SURYA.co.id | Mojokerto - Salah satu warga yang juga menjadi peserta lomba rumah kemah masal unik bernama Alda Oktaferika mengungkapkan, bahwa lomba tersebut adalah inovasi baru yang cemerlang dan hanya satu-satunya.

Sebab, menurutnya tak ada dusun lain yang mengadakan Lomba kemah masal seperti di Dusun Brongkol.

"Ini adalah acara satu-satunya dan pertama yang digelar di dusun."

"Dalam acara ini para warga dapat melatih kekompakan dan mengasah kekreativitasan," ungkapnya.

Alda sapaan akrabnya bersama keluarga membuat rumah kemah berbentuk rumah adat Minangkabau, yakni Rumah Gadang.

Rumah ada Minang dibuat dalam kurung waktu satu minggu.

Alda memanfaatkan Bahan-bahan daur ulang seperti kardus, koran, kertas kado, bambu dan ampas kelapa untuk membuat tulisan Dirgahayu Republik Indonesia ke-73 yang terletak di atas genteng.

"Kami menghabiskan biaya sekira Rp 200.000 untuk membuat rumah Gadang."

"Ide pembuatan didapat dari google dan ayah," kata siswi SMK PGRI Sooko Kabupaten Mojokerto ini.

Untuk menarik perhatian para juri, Alda bersama keluarga mengenakan pakaian masyararakat tempo dulu seperti kebaya, jarik, dan kerudung.

Selain itu, rumah kemah dibuat sedetail mungkin oleh mereka. Kedetailan Rumah Gadang buatan keluarga Alda dapat dilihat dari bentuk atap dan pintu masuk yang hampir mirip dengan aslinya.

"Kami juga menyajikan drama ketik juri menilai. Drama itu menceritakan tentang orang kota yang memberi kabar kepada orang desa bahw Indonesia telah merdeka. Lalu orang kota tersebut diajak merasakan kehidupan di desa. Ide drama muncul tiba-tiba 2 jam sebelum penilaian," pungkasnya

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved