Berita Pasuruan

Kisah Hari Wahyudi Perajin Kaligrafi Berbahan Limbah Cangkang telur

Seni kaligrafi itu dibuat dengan bahan yang tak seperti biasa. Backround retak-retak, merupakan hasil tempelan cangkanh telur ayam

Kisah Hari Wahyudi Perajin Kaligrafi Berbahan Limbah Cangkang telur
SURYA.co.id/Galih Lintartika
Hari Wahyudi berkreasi membuat kaligrafi dengan limbah cangkang telur 

SURYA.co.id | PASURUAN - Tanganya sangat hati - hati menata tulisan arab itu. Secara perlahan - lahan, tangannya menari - nari di atas kanvas. Backgroundnya coklat seperti retak-retak. Sekilas, bentuknya tak jauh berbeda dengan seni kaligrafi umumnya. Namun, bila dicermati lebih dekat, akan terlihat perbedaannya.

Maklum, seni kaligrafi itu dibuat dengan bahan yang tak seperti biasa. Backround retak-retak, merupakan hasil tempelan cangkanh telur ayam. Sementara tulisan arabnya, dibuat dari pelepah pisang ataupun kulit jagung.

Kaligrafi unik itu, merupakan kreasi Hari Wahyudi. Lelaki 52 tahun tersebut, sudah lima tahun belakangan menekuni kerajinan kaligrafi. Di mana, bahannya berasal dari limbah telur ayam serta pelepah pisang dan kulit jagung.

Hari ,sapaannya bercerita, awal mula berkreasi membuat kaligrafi dengan limbah itu, bermula dari banyaknya tumpukan cangkang telur di kampungnya. Kebetulan, cangkang telur itu dibuang, lantaran tidak lagi dipakai setelah telurnya digunakan untuk kue.

“Melihat banyaknya cangkang telur, saya berpikir bagaimana untuk memanfaatkannya. Karena kalau dibiarkan, jumlahnya bisa semakin menumpuk,” kenang warga Cangkringmalang, Kecamatan Beji ini.

Ide itu akhirnya muncul ketika ia melihat seni kaligrafi. Ia pun terpikir, untuk berkreasi seni kaligrafi dengan menggunakan bahan cangkang telur sebagai background tulisan. Sementara tulisannya sendiri, semula ia menggunakan pasir.

Tak mudah saat awal-awal mencoba. Ia beberapa kali gagal untuk memasang cangkang telur di papan triplek. “Sempat beberapa kali gagal. Intinya, harus telaten. Begitupun dengan saat mencuci cangkang telur itu agar tidak bau. Harus telaten juga,” urainya.

Hingga percobaan itu sesuai dengan yang diharapkan. Ia pun memajang, kaligrafi kreasinya. Siapa sangka, banyak saudara dan kerabat yang berminat untuk memesannya.

Dari situlah, ia semakin getol untuk membuat kaligrafi berbahan limbah. Ia pun terus berinovasi. Terutama untuk bahan tulisannya. Jika semula menggunakan pasir, sekarang tidak lagi.

Karena, ia lebih banyak memanfaatkan kulit pisang atau kulit jagung.

Halaman
12
Penulis: Galih Lintartika
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help