Liputan Khusus

Pencapaian AirNav Indonesia di Atas Rata-rata Dunia

AirNav Indonesia menorehkan sederet prestasi yang membanggakan. Tetapi, ada orang-orang dengan pekerjaan menantang di balik itu semua.

Pencapaian AirNav Indonesia di Atas Rata-rata Dunia
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Pemandangan di Bandara Juanda Sidoarjo dari ketinggian menara ATC 

Menurut Heru, sinergitas Airnav Indonesia dengan PT Angkasa Pura (AP) I Cabang Bandara Internasional Juanda telah dijabarkan dalam Letter Of Coordination (LOCA), sebagai pedoman pelaksanaan operasional penerbangan. Tujuannya, untuk meningkatkan pelayanan navigasi penerbangan dan jasa kebandarudaraan.

Pelayanan navigasi penerbangan sepenuhnya ada di AirNav, sedangkan PT Angkasa Pura I Juanda bertanggung jawab terkait pelayanan di darat, seperti ketersediaan parkir pesawat, ruang tunggu dan fasilitas pendukung lainnya.

Dalam perkembangannya, adanya LOCA juga berdampak pada kenaikkan jumlah penumpang di Bandara Juanda. Hingga Juli 2018, PT AP 1 Juanda telah melayani 12.259.890 penumpang atau naik 31.1 persen dengan periode yang sama.

Sedangkan untuk penerbangan di Bandara Juanda adalah 91.207 pergerakan, atau naik 29.1 persen. Sementara untuk kargo sejumlah 61.401 kg atau naik 11.3 persen dari tahun lalu.

GM Airnav Juanda
Pemandangan dari menara ATC Bandara Juanda

Lebih cepat

AirNav Indonesia memiliki sejumlah layanan unggulan yang mempermudah maskapai. Salah satunya aplikasi Chronos,  sistem aplikasi untuk pengelolaan waktu terbang (slot time) secara online yang lebih efisien.

Chronos membuka transpanrasi pengaturan slot time bagi semua maskapai. Sistem aplikasi itu terkoneksi dengan sistem izin rute milik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

“Semua serba transparan dan teratur . Tidak Ada celah untuk 'main mata',” kata Gendro Dwi Purnomo, Airport Operator Committee (AOC) Juanda Chairman.

AOC mewadahi maskapai dan ground handling yang beroperasi di bandara. Di Juanda, komite itu mewadahi enam maskapai asing, lima maksapai nasional, dua ground handling, dan satu katering.

Selain Chronos, ada juga layanan e-flight plan. Dengan aplikasi ini, pengurusan flight plan bisa selesai dalam semenit di kantor maskapai.

Dulu sebelum ada layanan e-flight plan, maskapai harus mencetak flight plan berlembar-lembar untuk satu penerbangan.Kertas lembaran itu pun harus dibawa ke kantor AirNav untuk laporan. Saat ini, pengurusan cukup dengan mengunggah flight plan dalam bentuk pdf.

"Bayangkan jika punya flight dalam sehari lebih dari sepuluh. Sepuluh kali juga kami harus nge-print dan bolak-balik," kata Gendro.

Dalam beberapa tahun terakhir, AirNav juga melakukan banyak investasi. Terutama untuk alat-alat penunjang monitoring penerbangan. Menurut Gendro, investasi itu juga berdampak langsung bagi maskapai. Terutama investasi yang berhubungan dengan pengaturan traffic dan penyesuaian atau pengubahan jalur penerbangan.

Menurut Gendro, anggota AOC dan AirNav rutin berkoordinasi setiap adanya kendala. Misalnya, ketika cuaca buruk. Koordinasi paling sering dilakukan via telepon. Selain itu, mereka juga memiliki grup Whatsapp (WA) Juanda dan AirNav khusus untuk koordinasi.

"Kami mendukung penuh jika AirNav Juanda melakukan berbagai inovasi dan terobosan-terobosan. Semua demi keselamatan dan kenyamanan penerbangan," katanya.

Dengan layanan yang ada, AOC menganggap layanan AirNav di Bandara Juanda sudah cukup bagus. Apalagi, menurut dia, AirNav terbuka menerima masukan dari maskapai.

“Saya rasa, pelayanan AirNav Juanda juga sangat berkontribusi dalam peningkatan on time performance di Juanda,” ujarnya.

Menurut dia, peningkatan layanan tersebut tak lepas dari pemisahan fungsi antara AirNav dan Angkasa Pura. “Masing-masing pihak jadi lebih fokus,” kata Gendro.

Junior Manager Air Traffic Flow Management & Air Traffic Service System AirNav Juanda Faisal Riza mengatakan, Chronos dan e-flight memang sistem utama yang akan berdampak langsung bagi para maskapai. Seperti penjelasan Gendro, dua sistem tersebut mempercepat proses perbangan.

Suasana di dalam menara ATC Bandara Juanda, Sidoarjo
Suasana di dalam menara ATC Bandara Juanda, Sidoarjo (surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin)

Modernisasi Peralatan

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan, pelayanan navigasi penerbangan di mana pun di dunia ini sifatnya harus nonprofit. Keuntungan yang didapat diinvestasikan lagi untuk peningkatan kapasitas, kapabilitas personel dan untuk memodernisasi peralatan.

Hingga saat ini, AirNav sudah banyak melakukan terobosan-terobosan. Salah satunya pengaturan slot time dengan sistem aplikasi Chronos. Sistem aplikasi ini sangat bermanfaat untuk pengefektifan waktu maskapai.

Sistem aplikasi ini juga lebih transparan. Semua maskapai bisa melihat slot yang masih kosong sehingga tidak ada kesan adanya maskapai yang mendapat perlakuan khusus atau berbeda.

Menurut Alvin, sekarang maskapai di Indonesia boleh dikatakan lebih baik kinerjanya dari sisi on time performance. Selain itu, ada juga perbaikan pengaturan rute. Ini sangat membantu maksapai dalam menghemat waktu dan biaya dan bahan bakar.

Memang, masih ada tantangan yang harus dihadapi AirNav. Antara lain, pengembangan kapasitas karena jumlah penerbangan dan pesawat di Indonesia selalu bertambah. Untuk itu AirNav dituntut meningkatkan daya dukung, baik sumber daya manusia maupun teknologi. Termasuk juga modernisasi peralatan.

Ditambahkan Alvin, AirNav perlu memiliki radar yang lebih canggih dan peralatan komunitasi dan koordinasi antarbandara. Ini penting karena AirNav sudah otomatis transfer dari satu kontrol area ke kontrol area yang lain.

Untuk Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, menurut Alvin, tak ada masalah dari sisi sistem pengawasan AirNav. Jangankan Juanda, di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta yang lebih padat saja tak ada masalah dengan itu.

Tapi, karena Bandara Juanda "numpang" di Angkatan Laut (AL), perlu ada kooridinasi dengan pemilik landasan. AL punya kegiatan dan prioritas sendiri. Di saat sipil dan AL padat, tantangan bagi AirNav adalah menjaga keseimbangan. (Aflahul Abidin/Wiwit)

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help