Berita Ekonomi Bisnis

Krisis Ekonomi Turki Naikkan Nilai Tukar, Rupiah masih Aman untuk Indonesia

"Bagi Indonesia memang ada kenaikan nilai tukar dolar yang tinggi. Namun antisipasi pemerintah sudah cukup ada usaha," ungkap Jamhadi.

Krisis Ekonomi Turki Naikkan Nilai Tukar, Rupiah masih Aman untuk Indonesia
surya/sri handi lestari
Ketua Kadin Surabaya, Jamhadi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya, Jamhadi menyatakan, krisis ekonomi di Turki yang berimbas kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah, diprediksi hanya sesaat.

"Krisis mata uang ini karena imbas perang dagang antara AS dengan Tiongkok. Bagi Indonesia memang ada kenaikan nilai tukar dolar yang tinggi. Namun antisipasi pemerintah sudah cukup ada usaha," ungkap Jamhadi ketika dihubungi, Senin (13/8/2018).

Menurut Jamhadi yang juga Tim Ahli Kadin Jatim, perang dagang antara AS dan Tiongkok membuat AS memberlakukan dobel pajak untuk produk impor dari berbagai negara sebagai proteksi dari produk dalam negerinya.

Tiga orang menteri di pemerintahan Indonesia telah melakukan komunikasi dengan pemerintah AS agar bagi produk Indonesia yang potensial masuk ke AS bisa mendapatkan pengecualian terhadap dobel pajak tersebut.

"Apalagi ekspor Indonesia ke AS itu surplus. Meski secara negara, AS masih berada di urutan empat besar, namun secara kawasan, kontribusi terbanyak masih dari negara regional ASEAN," jelas Jamhadi.

Selain melakukan komunikasi dengan pemerintah AS, Indonesia juga sudah melakukan pertemuan bisnis ASEAN Connectivity.

Di mana dalam pertemuan itu dalam hal perdagangan, untuk mengurangi ketergantungan pada kurs dolar AS, mereka sepakat menggunakan mata uang regional ASEAN.

"Langkah ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar," ujarnya.

Kenaikan nilai tukar yang mencapai Rp 14.600 per dolar AS pada Senin ini, diprediksi tidak lama. Namun Jamhadi mengingatkan  kondisi itu juga tidak akan turun.

"Mungkin hanya bertahan di kisaran Rp 14.500," tandas Jamhadi.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help