Pedagang Pulsa dan Kartu SIM Bentuk Komunitas Bersama Untuk Sinergi Pengembangan Usaha yang Sehat

Para pedagang pulsa dan kartu SIM bergabung dalam wadah Kesatuan Niaga Cellular Indonesia (KNCI) Surabaya.

Pedagang Pulsa dan Kartu SIM Bentuk Komunitas Bersama Untuk Sinergi Pengembangan Usaha yang Sehat
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Walikota Surabaya Tri Rismaharini (dua kanan) didampingi (tiga kiri) Qutni Tisyari Ketua Umum KNCI Demisioner bersama (dua kiri) GM WTC sonni triandalarso saat membuka Jambore Nasional ke 5 Kesatuan Niaga Cellular Indonesia (KNCI) di WTC e-Mall, Sabtu (11/8). Acara yang berlansung mulai tanggal 10 sampai 12 Agustus 2018 tersebut akan dihadiri oleh seluruh pedagang ritel seluler se-Indonesia yang menjadi anggota KNCI. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pasca regulasi kewajiban registrasi kartu SIM (Subscriber Identity Module) operator telepon seluler bagi pemiliknya, membuat pengusaha counter atau outlet pulsa dan kartu SIM operator mengalami kerugian. Sementara jumlah pelaku usaha di sektor ini jumlahnya cukup besar. 

"Hal ini yang mendasari kami kemudian membentuk wadah dengan anggotanya adalah para pengusaha outlet dan counter pulsa dan kartu SIM. Apalagi bagi kami usaha ini adalah bagian dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)," kata Qutni Tisyari, Ketua Umum Kesatuan Niaga Celluler Indonesia (KNCI) Surabaya, Qutni Tisyari di sela kegiatan bazar yang digelar di WTC e-mall Surabaya, Sabtu (11/8/2018).

Apalagi KNCI sudah menjadi organisasi nasional. Mereka berhasil menuntut hak pemilik outlet, terkait kebijakan pemerintah itu dengan mempertahankan supaya tenant bisa untuk melakukan registrasi. Dengan begitu, pembelian kartu dari operator tidak akan hangus, karena budaya masyarakat untuk membeli kartu langsung dibuang masih sangat tinggi.

“Itu juga (membeli kartu perdana langsung buang) yang menguntungkan (outlet). Kami juga beli putus dengan operator,” ungkap Qutni.

Saat ini, KNCI memiliki anggota sekitar 2.000 pengusaha. Hingga akhir tahun ditargetkan bisa bertambah hingga 3.000 orang.

“Tahun ini target keanggotaan kami sekitar 3.000 tenant. Saya rasa kami bisa melampaui target yang ditetapkan, mereka akan dilibatkan secara langsung dalam pengembangan UMKM,” jelas Qutni.

Target itu ditetapkan organisasi secara nasional. Sangat mungkin untuk direalisasi, karena di Indonesia jumlah DPD sebanyak 21 lokasi. Di setiap DPD, ada sekitar 2.000-an pedagang pulsa yang memiliki tenant sendiri. Jika semua berkumpul, pihaknya yakin regulasi-regulasi yang dikeluarkan pemerintah untuk kepentingan outlet atau tenant tidak akan merugikan.

Sekertaris Jendral (Sekjen) KNCI Abas menambahkan, bersatunya outlet menjadi sebuah organisasi akan membuat penjual-penjual pulsa semakin solid. Hal tersebut akan menguntungkan outlet, karena mereka bisa mengetahui aturan-aturan baru yang dikeluarkan pemerintah.

“Kami akan lebih mudah mensosialisasikan hal-hal baru, organisasi ini sangat berharga bagi kita semua,” tambah Abas.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help