Berita Pasuruan

Kelompok Tani (Poktan) Rejeki 17 Gandeng Komunitas 5:am_Photography Lestarikan Satwa Liar

Kelompok Tani (Poktan) Rejeki 17 binaan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya menggandeng komunitas

Kelompok Tani (Poktan) Rejeki 17 Gandeng Komunitas 5:am_Photography Lestarikan Satwa Liar
SURYA.co.id/Galih Lintartika
Kelompok Tani (Poktan) Rejeki 17 binaan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya menggandeng komunitas 5:am_Photography (fotografer satwa liar Probolinggo) untuk bersama - sama melestarikan keberagaman satwa liar 

SURYA.co.id | PasuruanKelompok Tani (Poktan) Rejeki 17 binaan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya menggandeng komunitas 5:am_Photography (fotografer satwa liar Probolinggo) untuk bersama - sama melestarikan keberagaman satwa liar di areal kebun kopi dusun Pesapen desa Watupanjang kecamatan Krucil, Kamis (9/8/2018) siang.

Sinergitas ini diwujudkan melalui sosialisasi mengenai manfaat keanekaragaman hayati, pemasangan himbauan larangan berburu satwa liar di areal kebun kopi organik seluas 37,02 hektar, serta identifikasi satwa burung yang menjadi predator alami bagi hama kebun kopi.

Kus Junaidi, Kepala Desa Watupanjang sekaligus mewakili poktan Rejeki 17, menuturkan, dalam regulasi dan tata kelola perkebunan organik adalah harus mengacu pada teknik perawatan alami tanpa bahan kimia sedikitpun.

Hal ini mutlak dilakukan semata-mata untuk memperoleh kualitas kopi arabika organik yang telah dikembangkan sejak tahun 2016 lalu.

"Kami berharap melalui sinergi ini kami mampu mengupayakan pelestarian satwa liar di sekitar perkebunan kopi organik kami, khususnya pada jenis burung yang menjadi musuh alami pada hama kopi," ungkap Kus Junaidi.

Lebih lanjut, Kus Junaidi mengutarakan, saat ini beberapa jenis burung umum yang diketahui sebagai pemangsa serangga di kebun kopinya sudah jauh berkurang.

Menurut ia, hal ini juga disebabkan oleh maraknya perburuan burung yang akhir-akhir ini semakin tak terkendali.

"Kondisi ini menjadi kekhawatiran bagi kami para petani kopi organik, karena burung pemakan serangga itu tak ubahnya sebagai sahabat kami dalam membantu mengendalikan hama penyakit, oleh karenanya kedepan larangan berburu ini juga akan kami rumuskan ke dalam Perdes Watupanjang," urainya.

Joko Prasetio, salah satu anggota 5:am_Photography menyambut baik atas langkah yang tengah diambil poktan Rejeki 17 dan Pemdes Watupanjang ini.

Menurutnya dalam sebuah ekosistem alam yang sehat sangat erat kaitannya dengan keberagaman berbagai jenis hidupan liar di dalamnya, baik itu vegetasi maupun satwa liarnya.

"Ketika ekosistem ini terusik maka satwa didalamnya akan meninggalkannya, dan jika itu terjadi maka selanjutnya proses rantai makanan didalamnya pun akan terganggu bahkan putus atau rusak."

"Contoh nya pada kebun kopi jika satwa burungnya sebagai predator alami tidak betah disini, maka pertumbuhan serangga yang menjadi hama pada tanaman kopi akan menjadi tidak terkendali," jelas Cowie sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Alumni ITN Malang ini menjelaskan, berdasarkan literatur yang ada di habitat ini, sangat mudah dijumpai beberapa ragam satwa liar bangsa burung dan mamalia.

"Seharusnya beberapa jenis burung merbah atau cucak-cucakan akan banyak kita jumpai disini selain burung kutilang, jenis zoothera atau punglor juga tidak nampak, hanya jenis punglor yang kurang diminati penghobi tadi sempat terlihat."

"Selain itu burung yang sangat umum di habitat perkebunan adalah jenis prenjak juga sudah sulit kita temukan," tandasnya.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help