Asian Games 2018

Saat Atlet Veteran Turun Gunung Mempersiapkan Atlet Jagoan Indonesia di Asian Games 2018

Sejumlah mantan atlet Indonesia turun gunung membantu mempersiapkan para pemain Asian Games 2018. Dua di antaranya Sinyo Supit dan Bonit Wiryawan

Saat Atlet Veteran Turun Gunung Mempersiapkan Atlet Jagoan Indonesia di Asian Games 2018
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Sinyo Supit, atlet tenis meja veteran saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu 

Pada ajang Asian Games mendatang pun, Sinyo memastikan diri hadir. Ia tak ingin meninggalkan satu pun laga sang anak. Sinyo bilang, tak ada partai ganda dalam Asian Games kali ini. Partai yang ada hanya single, beregu, dan mix double. Ia memperkirakan sang akan akan bermain di partai single dan beregu.

“Saya bilang, paling tidak dia harus dapat medali,” terang pria kelahiran 3 September 1959 itu.

“Negara-negara yang harus diwaspadai adalah China, Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Taiwan,” lanjutnya.

Selain dukungan semangat, Sinyo juga memberi pelatihan khusus kepada sang anak. Ia selalu menekankan, dalam pingpong bola apapun selalu bisa diserang. Bisa dipukul spin. Karena sang anak bermain secara menyerang, seperti ayahnya dulu, prinsip itu dinilai penting.

“Saya dulu prinsipnya, semua bola bisa di-spin. Kecuali bola di toko. Karena bola di toko harus dibeli dulu, dikeluarin dari wadahnya, baru di-spin,” kelakar bapak empat anak itu.

Cara latihan Ficky tak jauh berbeda dengan sang ayah. Sebelum Asian Games 2018 berlangsung, Ficky mengikuti pelatihan di China. Sinyo percaya, dengan berlatih dan bertanding ke negara-negara yang olahraga pingpongnya lebih maju, keterampilannya lebih terasah.

Ketika masih berusia 15 tahun (1975), Sinyo diberangkatkan ke Yugoslavia bersama empat atlet senior Indonesia. Saat itu, Yugoslavia menjadi negara kedua yang pingpongnya maju. Urutan pertama tetap China. Tapi ketika itu belum ada hubungan diplomatik antara Indonesia dan China, terutama untuk dunia olahraga.

Ia dipilih karena di tahun yang sama memenangi kejuaraan tenis meja junior Indonesia. Selama 4 tahun di Yugoslavia, Sinyo dan atlet lain digembleng.

“Pulang dari sana, bola di sini rasanya pelan-pelan sekali,” lagi-lagi Sinyo tertawa. Sepanjang wawancara, pria kelahiran Surabaya itu memang kerap bergurau.

Sepulang dari Yugoslavia, ia dipanggil bos perusahaan rokok besar Gudang Garam. Ia bersama Empie Wuisan dan Diana Wuisan Tedjasukmana memprakasai berdirinya Perkumpulan Tenis Meja Surya Kediri. Ini adalah salah satu klub pingpong terbesar yang bubar pada 2008.

Halaman
1234
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved