Grahadi

Beranda Grahadi

Pakde Karwo Usul Pendidikan Vokasional dalam Madrasah Diniyah

Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo mengusulkan agar madrasah diniyah (madin) memiliki muatan lokal pendidikan vokasional.

Pakde Karwo Usul Pendidikan Vokasional dalam Madrasah Diniyah
foto: humas pemprov jatim
Pakde Karwo menghadiri Penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama antara Pemprov Jatim dengan Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah IV Surabaya, Rabu (8/8/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo mengusulkan agar madrasah diniyah (madin) memiliki muatan lokal pendidikan vokasional. Apalagi, di tahun 2019 Jatim akan mengalami bonus demografi di mana usia produktif, yakni umur 15-64 tahun, mencapai angka 69,60 persen. Usia produktif tersebut membutuhkan ketrampilan atau mereka dituntut menjadi lulusan atau tenaga kerja terampil.

Hal tersebut disampaikannya saat Penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama antara Pemprov Jatim dengan Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah IV Surabaya dan 35 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) di Jatim terkait program peningkatan kualitas guru madin, yang bertempat di Ruang Bhinaloka Adhikara, Kantor Gubernur Jawa Timur, Rabu (8/8/2018).

Pakde Karwo, sapaan lekat Gubernur Jatim ini, menjelaskan, bonus demografi disikapi melalui pendidikan yang dibuat dalam sistem dual track strategy. Termasuk madin diberikan muatan vokasi atau keahlian, seperti teknologi dan rekayasa, kesehatan, tata boga, tata busana, agrobisnis, dan pariwisata.

Menurut Pakde Karwo, pendidikan dual track strategy diterapkan pada jalur nonformal (SMK Mini, BLK dan Madin) serta formal seperti SMK yang di link and matchkan dengan industri dan perguruan tinggi, serta filial antara SMK dengan PTN. Tujuannya, untuk menghasilkan lulusan atau SDM yang berdaya saing.

“Konsep ini didasarkan kebutuhan tenaga kerja dari negara-negara industri seperti Jepang, China dan Korea Selatan yang membutuhkan tenaga kerja terampil. Jadi, ini kesempatan baik untuk mempersiapkan lulusan terampil,” katanya.

Konsep ini, lanjut Pakde Karwo, akan dilakukan di Madin Takmiliyah 22.563 lembaga, Ma’had Alysebanyak 10 lembaga, dan pendidikan diniyah Ulya sembilan lembaga. Serta, pendidikan diniyah formal Wustha  sembilan lembaga dan satuan pendidikan Muadalah 23 lembaga.

“Nantinya kami juga akan bekerjasama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) agar lulusannya juga bersertifikat,” jelasnya sembari menambahkan konsep ini akan menguntungkan pondok pesantren karena tidak perlu khawatir santrinya akan beralih ke sekolah umum.

“Para lulusan ini harus disiapkan dari sekarang, agar nantinya tidak menjadi tenaga kerja baru tidak terdidik atau unskilled yang bisa menyebabkan pengangguran,” katanya.

Ditambahkannya, pendidikan madin ini sesuai dengan basis yang ada di Jatim yakni etika, religi dan kultur. Menurutnya Jatim khas daerah santri, sehingga harus memasukkan religi dalam basisnya, tidak semata-mata kultural.

“Konsep religi ini sesuai dengan pendidikan diniyah salafiyah yang menjadi ciri khas di Jatim,” terangnya.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved