Lapor Cak

16 Tahun Beroperasi, Pasar Burung Empunala di Mojokerto Tak Pernah Tersentuh Renovasi

Lebih dari 16 tahun ditempati, pasar burung Empunala, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto sama sekali belum tersentuh renovasi.

16 Tahun Beroperasi, Pasar Burung Empunala di Mojokerto Tak Pernah Tersentuh Renovasi
surabaya.tribunnews.com/mohammad romadoni
Kondisi pasar burung Empunala di Magersari, Mojokerto yang 16 tahun tak pernah tersentuh perbaikan. 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Lebih dari 16 tahun ditempati, pasar burung Empunala, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto sama sekali belum tersentuh renovasi.

Saat ini pasar burung Empunala kondisinya kian memprihatinkan. Bangunan seluas 40 meter x 10 meter itu tampak tidak terawat bahkan terkesan terabaikan oleh pemerintah setempat.

Sholeh (50) pedagang burung berkicau di pasar Empunala mengatakan kondisi pasar tersebut dikeluhkan sejumlah pedagang yang hingga kini masih eksis berjualan. Padahal, tempat ini selalu ramai menjadi jujugan masyarakat untuk bertransaksi jual beli burung berkicau.

"Bangunan pasar sudah rusak lama tapi belum pernah diperbaiki," ujarnya, Rabu (8/8/2018).

Sholeh sudah berdagang di pasar burung Empunala sekitar 12 tahun. Meski telah membayar retribusi bulanan Rp 58.000 perbaikan kios merupakan tanggung jawab pedagang.

"Banyak bangunan pasar terutama kios pedagang yang rusak ya dibetulin sendiri semuanya itu jadi tanggung jawab pedagang," ungkapnya.

Ketua Paguyuban pedagang burung pasar Empunala, Didik Gani Fiantoro menjelaskan pasar burung Empunala ini dibangun pada tahun 1997 dan mulai ditempati pedagang burung berkicau sekitar 2003-2004.

Namun hingga kini belum pernah ada perbaikan.

"Sangat berharap ada perbaikan bangunan pasar burung agar semakin banyak pembeli yang datang," ungkapnya.

Didik mengatakan di pasar burung Empunala ini ada 140 kios pedagang. Nyaris sebagian besar bangunan pasar dalam kondisi rusak parah. Atap bangunan pasar dari bahan polycarbonate berwarna hijau itu tampak ambrol. Pedagang mensiasatinya dengan memasang kain banner pada bagian atap agar terlindung dari cuaca panas dan hujan.

Sedangkan, pada bagian belakang pasar banyak bertumpuk-tumpuk kain yang diperparah minimnya penataan di tempat itu seakan menambah kesan kumuh.

"Sudah satu tahun ini rusak dulu sempat diusulkan tapi belum ada perbaikan," jelasnya.

Masih kata dia, pedagang berinisiatif memperbaiki kios mereka masing-masing dengan menambal atap yang rusak. Ini dilakukannya untuk mempertahankan usahanya.

"Ada atap rusak ya ditambal sendiri intinya bagaimana caranya pedagang dan pembeli tidak kepanasan," pungkasnya. 

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved