Berita Mojokerto

Di Mojokerto, Sekolah Dilarang Gelar Wisuda Untuk Siswa SD

Dinas Pendidikan Kota Mojokerto melarang sekolah-sekolah menggelar pelepasan siswa dengan prosesi wisuda.

Di Mojokerto, Sekolah Dilarang Gelar Wisuda Untuk Siswa SD
the foghorn news
Ilustrasi Wisuda 

SURYA.co.id | MOJOKEROT - Dinas Pendidikan Kota Mojokerto melarang kegiatan perpisahan kelulusan siswa di sekolah dasar memakai embel-embel prosesi wisuda.

Rencana larangan ini dibahas bersama seluruh kepala sekolah tingkat dasar di ruangan lantai II gedung Dinas Pendidikan Jalan Benteng Pancasila Nomor 244 Kota Mojokerto, Selasa (7/8/2018).

Amin Wachid Kepala Dinas Pendidikan Kota Mojokerto menjelaskan, kebijakan larangan ini untuk kepentingan bersama yakni meringankan beban wali murid yang sempat keberatan terkait mahalnya biaya untuk perpisahan sekolah dengan prosesi wisuda.

Pihaknya bahkan sudah sering kali melihat adanya perpisahan sekolah dasar yang memakai istilah wisuda digelar di sejumlah sekolah. Dia pernah menjumpai dalam prosesi wisuda siswa sekolah hingga memakai Pedel yang membawa tongkat dari salah satu perguruan tinggi.

"Acara pelepasan siswa yang lulus TK-SD-SMP tetap diperbolehkan, namun sebaiknya tidak dengan nama wisuda, tapi cukup pelepasan atau perpisahan siswa saja," ujarnya.

Amin mengatakan paling menjadi sorotan adalah ketika perpisahan sekolah dasar yang mengadopsi cara wisuda di mana setiap siswa memakai baju Toga. Padahal, harga sewa atau beli baju Toga yang dipakai siswa itu relatif mahal. Terpenting, seluruh biaya sewa baju dan lainnya ditanggung secara mandiri oleh masing-masing siswa yang tentunya menjadi tanggung jawab dan terkesan memberatkan para wali murid.

"Pastinya kegiatan wisuda siswa sekolah akan ada prosesi dan biaya tambahan untuk membuat atau sewa baju/ kostum yang membutuhkan biaya lebih akan membebani orang tuanya," ucapnya.

Amin bahkan sempat kroscek harga persewaan baju wisuda khusus untuk siswa sekolah di seluruh Kota Mojokerto yang  rata-rata berharga sekitar Rp 125 ribu.

"Wisuda kesannya sakral dan kaku, harapan kami siswa tetap bisa fun jika dikemas secara sederhana. Kalau bisa pakai baju batik atau baju bebas," ungkapnya.

Menurut dia, memang tidak ada aturan resmi dari Permendikbud mengenai kegiatan perpisahan kelulusan siswa tingkat akhir di sekolah negeri maupun swasta mulai dari PAUD, TK, SD dan SMP.

Pihaknya tidak pernah melarang pihak manapun untuk menggelar perpisahan sekolah. Namun keberatan jika ada perpisahan sekolah dasar memakai istilah wisuda yang tidak sesuai peruntukkannya.

"Kata-kata wisuda itu dalam kegiatan perpisahan sekolah dasar tidak tepat apalagi siswa memakai baju wisuda (Toga) dan acaranya nyaris sama dengan prosesi wisuda sarjana di perguruan tinggi," kata mantan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto ini.

Untuk itu Dindik Kota Mojokerto akan mensosialisasikan kepada seluruh kepala sekolah sebatas imbauan melarang fenomena wisuda siswa sekolah dasar.

"Sampai saat ini sosialisasi  adanya rencana larangan sekolah menggelar perpisahan bertajuk wisuda dilakukan di sekolahan SD dan SMP negeri," terangnya.

Masih kata Amin, pihaknya tidak bisa melarang lantaran kegiatan pelepasan atau perpisahan siswa ini biasanya diadakan oleh komite sekolah dan wali murid di mana guru hanya sebatas undangan. Perpisahan kelulusan sekolah ini sudah menjadi tradisi yang sudah ada sejak dulu.

"Kegiatan tujuan bagus untuk menghibur setelah ujian dan silaturahmi," pungkasnya. 

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help