Berita Ekonomi Bisnis

Cukai Tembakau Dikabarkan Naik September 2019, Bea Cukai Diminta Pertimbangkan Beberapa Hal ini

Tahun ini Jatim menyetorkan Rp 80 triliun. Jumlah itu naik Rp1,3 triliun dibanding tahun lalu yang Rp79 triliun.

Cukai Tembakau Dikabarkan Naik September 2019, Bea Cukai Diminta Pertimbangkan Beberapa Hal ini
SURYAOnline/Pipit Maulidiya
Suasana diskusi "Prospek dan Tantangan dalam Pertembakauan: Kebijakan Cukai Hasil Tembakau (Domestik dan Internasional) dan Dampak Ekonomi-Tenaga Kerja" di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya, Selasa (7/8/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Isu kenaikan tarif cukai tembakau sudah tersiar sejak dua tahun lalu. Saat ini pihak Direktorat Bea dan Cukai sedang mempersiapkan hal itu, mengingat penentuan tarif cukai tembakau diputuskan pada September nanti.

"Penetapan tarif cukai tembakau sekitar September 2019. Biasanya ada kenaikan tarif cukai, angka kenaikan prosesnya masih dimatangkan. Kami juga harus antisipasi biasanya kenaikan cukai ini mempengaruhi banyak hal, salah satunya peredaran rokok ilegal," kata M Purwantoro, Kepala Kanwil Bea dan Cukai Jawa Timur 1.

Purwantoro menyatakan hal itu usai diskusi "Prospek dan Tantangan dalam Pertembakauan: Kebijakan Cukai Hasil Tembakau (Domestik dan Internasional) dan Dampak Ekonomi-Tenaga Kerja" di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya, Selasa (7/8/2018).

Menurut dia, sebagain besar daerah, misalnya Jawa Timur, mengeluhkan kenaikan cukai tembakau yang tinggi, tidak setara dengan penerimaan daerah yang tinggi pula.

Hal ini didasari alasan karena setiap naiknya tarif cukai tembakau, selalu dibarengi dengan maraknya peredaran rokok ilegal.

"Beda lagi kalau kenaikan cukai tembakau naik, pemberantasan rokok ilegal juga gencar, maka jadilah kenaikan penerimaan yang signifikan. Tahun 2017 rokok ilegal di Indonesia mencapai angka tujuh persen, setelah sebelumnya sempat 13 persen. Untuk itu kami tidak bisa bekerja sendiri," tambahnya.

Di sisi lain, pihak industri rokok berharap pemerintah mempertimbangkan daya beli masyarakat yang saat ini kurang baik, khususnya sebelum mengambil kebijakan kenaikan cukai tembakau.

"Harus mempertimbangkan daya beli masyarakat, yang kita tahu saat ini kurang baik. Memang Pemerintahan Presiden Jokowi ini cukup baik tapi industri retail turun, sementara yang naik adalah e-commerce. Tapi kita gak mungkin jualan rokok online," kata HRD dan GA Manager PT. KT&G Indonesia Eka N. Tangkere.

Eka mengaku industri tidak pernah menolak dan alergi terhadap kebijakan pemerintah soal kenaikan cukai tembakau.

"Kami minta semacam tenggang waktu supaya industri tembakau ini hidup," kata dia.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved